Selasa, 01 Desember 2015

SEKUTU PEMENANG PERANG DUNIA II PASCA PERANG: DIPECUNDANGI NEGARA-NEGARA YANG BARU TUMBUH

Bicara tentang Sekutu pada perang Dunia II untuk Negara Eropa sebenarnya hanya tiga Negara saja, yaitu Inggris, Amerika Serikat dan Perancis. Sedangkan Belanda, ketika diserbu Jerman lansung menyerah tanpa perlawanan. Demikian juga ketika Jepang menyerbu Indonesia yang dikuasai Belanda, Belanda lansung keok, hampir tidak ada perlawanan menyerah kepada pasukan Jepang. Belanda tidak punya nyali perang secara modern dengan senjata tangguh. Belanda terbiasa melawan rakyat yang hanya bersenjatakan ala kadarnya seperti parang tombak, keris dan bamboo runcing. Itupun dengan cara yang licik.

Dengan Jerman dan Jepang, Pasukan  sekutu berhasil menang perang, namun keangkuhan dan eforia serta rasa percaya diri yang berlebihan membuat mereka dipecundangi oleh Negara-negara yang baru tumbuh, yang mereka anggap remeh.

Yang pertama kali kena batunya adalah pasukan Inggris. Kedatangannya ke Indonesia adalah untuk mengurus masalah tawanan dan di sambut oleh bangsa Indonesia dengan hangat dan tangan terbuka. Namun kemudian terbukti mereka punya maksud lain mengambil alih kekuasaan untuk sobatnya bangsa Belanda. Sikap mereka sangat merendahkan dan menghina. Maka terjadilah Perang Surabaya Phase pertama, dan mereka sangat kecele dalam tiga hari mereka kalah telak, mereka sudah mengibarkan bendera  putih, tanda menyerah namun pejuang kita tetap menghajarnya. Terancam punah, komandannya di Jakarta memohon kepada presiden untuk menghentikan pertempuran. Datanglah Presiden  Sukarno menghentikan perang, selamatlah mereka dari kepunahan. Perang Phase ke –dua dipicu oleh tewasnya Brigjen Mallaby terjadilah pertempuaran Pada tanggal 10 November yang sekarang kita pringati sebagai hari Pahlawan. Inggris memang berhasil merebut kota Surabaya. Namun melihat rakyat dan pejuang dari dalam dan  luar pulau jawa berdatangan untuk ikut perang, Inggris khawatir mereka dipukul mundur, maka akhirnya meminta gencatan senjata. Dua Jenderal mereka  pulang  tinggal nama dalam pertempuran ini

Perancis, yang sebenarnya hanya membonceng Inggris dan Amerika Serikat merebut tanah airnya yang mereka tinggalkan lari karena dipencundangi Jerman pada awal Perang Dunia II. Setelah perang masih ingin mengangkangi negeri jajahannya. Namun mereka terusir oleh pasukan Grilya Aljazair. Suatu kekalahan yang telak.
Dan di Vietnam, Perancis menghadapi perlawanan rakyat dengan kekejaman yang luar biasa. Namun Pasukan mereka yang bertahan di benteng Dien Bien Phu terpaksa menyerah kepada kepada pasukan rakyat Vietmin yang dipimpin oleh jenderal legendaris  Vietnam Vo Nguyen Giap pada 1954. 

Amerika Serikat yang gagah perkasa juga kena batunya di Korea. Jenderal yang mereka agung-agungkan menaklukkan kekaisaran jepang, Mac Arthur, dipukul mudur oleh pasukan Korea utara. Sehingga sang jenderal terpaksa ditarik..
Demikian juga, setelah Perancis kalah di Vietnam, Amereika serikat berusaha menggantikannya dengan alasan menghambat perkembangan komunis. Namun akhirnya menemui nasib sial, terpaksa lari terbirit-birit setelah pasukan mereka dikalahkan dengan gemilang oleh tentara Vietnam dengan direbutnya kota Saigon.

Begitulah yang dialami pasukan sekutu setelah mereka memetik kemenangan dalam Perang Dunia II, namun dipecundangi oleh Negara-negara yang baru tumbuh.




Senin, 09 November 2015

ULTIMATUM TAK DIGUBRIS MAKA SURABAYA MENJADI KANCAH PERANG PADA 10 NOVEMBER 1945

Jenderal Mansergh mengancam, apabila rakyat Surabaya tidak mematuhi perintahnya secara penuh sampai paling lambat pada 10 November pukul 06.00, maka dia akan menggerakkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, dan orang-orang Indonesia yang tidak mematuhi perintahnya harus bertanggungjawab atas pertumpahan darah yang akan timbul.

Perintah Mansergh ini sangat merendahkan dan menghina pimpinan Indonesia. “ Hak apa orang Inggris memerintah orang Surabaya sebagai bagian dari Negara yang berdaulat!” Teriak Bung Tomo sambil menggebrak meja setelah mendapat laporan tentang ultimatum itu.
Bung tomo meneriakkan di corong Radio pemberontak, “ Saudara-saudara  Allahu Akbar! Semboyan kita tetap: MERDEKA ATAU MATI. Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ketangan kita, sebab Allah selalu berada pada pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian”

Allahu akbar…! Allahu akbar…! Allahu akbar…!
“MERDEKA”
Mendengar pidato bung Tomo, orang Surabaya paham  itu isyarat perang. Dan Mayjen Mansergh juga mengambil kesimpulan bakal ada perang besar, sebab sampai batas yang ditentukan tidak ada satu orang pun rakyat Surabaya yang datang menyerahkan senjata.

Akhirnya pada tanggal 10 November pukul 10.12 WIB di langit Surabaya suara pesawat menderu-deru kencang. Inggris mengerahkan pasukan Royal  Air force (RAF) yang merupakan veteran  perang dunia II yang mengebom Berlin.
Mereka mengebom kantor-kantor pemerintahan dan gedung-gedung sekolah. Banyak orang yang mati karena resuntuhan gedung atau yang tertembak mitraliur pesawat. Inggris mengulang kejahatan jerman ketika mengebom London, dengan memborbardir kota Surabaya. Dua dari pesawat Inggris berhasil ditembak jatuh oleh pasukan Indonesia dan salah satu penumpangnya adalah Brigadir jenderal Robert Guy Loder Symonds, terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

 Para pejuang  membangun benteng-benteng pasir, menjalin kawat berduri dan bersembunyi di jendela-jendela toko. Bung Tomo lewat radio pemberontakan  mengobarkan semangat pemuda dan rakyat Surabaya dan mengajak mereka bersatu melawan sekutu.
Pertempuran sengit tidak bisa dielakkan, berkat pidato Bung Tomo, rakyat Surabaya mendapat bantuan dari rakyat sekitarnya untuk mempertahankan kedaulatan kota Surabaya.
Presiden Sukarno yang pada awalnya tidak menghendaki perang dengan sekutu, namun kemudian  ia menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pemerintah daerh Jawa timur..
Pertempuran sengit belansung selama lima hari lima malam. Tentara sekurtu mengalami kerugian yang amat banyak. Ini adalah pertempuran sekutu terdasyat sejak PD II, kata E.C. Mansergh komandan Sekutu.
Setelah sepuluh hari bertempur dengan ribuan prajurit Inggris yang tewas, Inggris berhasil menguasai kota Surabaya. Dan ini adalah pertempuran yang paling berdarah yang dihadapi Inggris pada decade 1940-an. Seluruh kota Surabya hancur lebur, lebih dari 20 ribu orang tewas dan sebagian besar adalah penduduk sipil termasuk wanita dan anak-anak. Pertempuran ini menunjukkan  kesungguhan  bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.
Seandainya pertempuran ini tidak dihentikan dengan gencatan senjata, tidak mustahil, dalam waktu singkat pasukan sekutu dipukul mundur karena bantuan dari daerah lainnya, Bali, Nusa tenggara, Sulawesi sudah mulai berdatangan. Pemimpin Inggris tahu ini, oleh karena itu mereka cepat meminta gencatan senjata.

Dan untuk selanjutnya Inggris tidak mau memikul resiko yang lebih besar, setelah mengorbankan ribuan prajuritnya dan dua orang Jenderal, Inggris secara berangsur-ansur mulai mengurangi pasukannya dan secara bertahap diganti oleh Pasukan Belanda  yang dalam pertempuran hanya menonton saja. Itulah Inggris dengan sekutunya, merasa pintar tapi mau diperalat oleh Belanda.
Pertempuran sepuluh November sekarang dikenang dan diperingat  sebagai  hari pahlawan.

  
Sumber: Agung Pribadi, 2014. Gara-gara Indonesia. Depok: AsmaNadia Publishing House.

KEMATIAN JENDERAL MALLABY DAN PERANG TERBUKA 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA

Setelah disepakati gencatan senjata 30 Oktober 1945, pimpinan sipil dan militer pihak Indonesia dan Inggris  bersama-sama keliling kota dengan iring-iringan mobil untuk menyebar luaskan kesepakatan tersebut. Dan Jenderal Mallaby yang sudah menilai situasi aman berkeliling kota melihat  keadaan
Ternyata perjalanan ini memicu pertempuran. Pos Inggris yang terputus komunikasi tidak tahu sudah ada gencatan senjata. Ketika melihat mobil sang jenderal datang, mereka berinisiatif melindunginya dengan melepaskan tembakan kearah pejuang Indonesia dan kontan dibalas oleh pihak Indonesia.

Tembak menembak berlansung sekitar 2 jam dan setelah berhenti terlihat mobil Mllaby hancur, dan sang jenderal sendiri ditemukan tewas dalam keadaan menggenaskan. Sang Jenderal tewas dengan muka hancur akibat granat yang dilemparkan oleh tentara Inggris sendiri.  Namun  pihak Inggris yakin sang jenderal sudah mati tertembak sebelum insiden salah lempar granat,
Terlepas dari pihak mana tembakan itu datang, Inggris akhirnya menjadikan momentum itu untuk melakukan serangan besar-besaran.
Selama lima tahun berperang dengan jerman, tidak ada satupun jenderal Inggris yang tewas, tapi di Surabaya baru lima hari mendarat satu jenderal tewas.

Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kematin Brigjen Mallby  dan mengerahkan 24 ribu pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya. Ia mengirim pasukan devisi ke-5 di bawah komando Mayjen E.C Mensergh, jenderal yang terkenal karena kemenangannya  dalam perang dunia ke II di Afrika saat melawan pasukan jenderal Rommel. Mensergh membawa 15 ribu tentara, dibantu 6000 personel brigade 45 the Fighting Cock dengan persenjataan serab canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitzer kapal perang M.M.S Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer dan 12 kapal terbang jenis  Mosquito.
Setelah konsolidasi selam 9 hari dan merasa sudah mempunyai pasukan yang cukup. Mansergh mengeluarkan ultimatum tanggal 9 November 1945  dalam bentuk pamphlet yang disebarkan di atas kota Surabaya yang bunyinay:
“seluruh pemimpin bangsa Indonesia, termasuk pemimpin-pemimpin gerakan pemuda, kepala polisi, dan kepala radio Surabaya harus melapor ke Bataviawg pada 9 November pukul 18.00. Mereka harus datang berbaris satu persatu membawa senjata yang mereka miliki. Senjata tersebut harus diletakkan di tempat berjarak 100 yard dari tempat pertemuan. Setelah itu orang-orang Indonesia itu harus mendekat dengan kedua tangan mereka diatas kepala dan akan ditahan, mereka harus siap untuk menandatangani dokumen menyerah tanpa syarat.”
  
Sumber: Agung Pribadi, 2014. Gara-gara Indonesia. Depok: AsmaNadia Publishing House.

Sabtu, 07 November 2015

PASUKAN INGGRIS YANG DIGDAYA PEMENANG PERANG DUNIA II KALAH TELAK DALAM PERTEMPURAN SURABAYA

(HARI-HARI MENJELANG 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA)
PART II
Tanpa mengindahkan kenyataan bahwa Indonesia sudah merdeka, tentara sekutu dengan seenaknya bertindak  menurut apa yang mereka mau. Pada  26 Oktober 1945, tentara sekutu merebut penjara Kalisosok dan membebaskan tawanan termasuk seorang Kapten Belanda. Pada hari berikutnya mereka merebut Pangkalan Udara Tanjung Perak.

Pada 27 Oktober 1945, pukul 11.00 siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta  menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran dan menganggap Brigjen  Mallaby tidak menepati perjanjian.
Sebetulnya pada 26 Oktober 1945 sudah tercapai persetujuan antara Gubernur Jawa timur Suryo dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan Milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka.
Sayangnya Brigjen Mallaby memilih untuk mematuhi atasannya di Jakarta untuk melucuti Pasukan Indonesia. Bagi rakyat Surabaya pilihannya adalah menyerahkan senjata dan menrendahkandiri atau melawan. Namun pilihan terakhir yang diambil yaitu melawan.
Pejuang kita sudah memperkirakan, pasukan Inggris hanuya sekitar 5000 an, sedangkan pasukan kita yang bersenjata saja sekitar 30.000 an. Jenis senjata yang dimiliki pejuang Indonesia tergolong cukup, mulai dari senjata ringan, hingga berat, termasuk meriam dan tank peninggalan jepang yang sebagian masih utuh. Dan lagi pula pasukan Inggris yang baru 2 hari mendarat tentu tidak mengenal liku-liku kota Surabaya.

Minggu 28 Oktober 1945, subuh hari pukul 04.30, rakyat Indonesia melancarkan serangan besar-besaran. Tujuannya mengusir tentara Inggris – yang membantu Belanda di Surabaya.
Selain pasukan-pasukan bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000 pemuda dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan bersenjatakan bamboo runcing dan celurit ikut dalam pertempuran. Mereka yang belum bersenjata bertekat untuk merebut senjata dari tangan tentara Inggris.

Selain menyerbu pos-pos pertahanan Inggris di tengah kota, pejuang juga memblokade aliran listrik dan air. Truk-truk yang mengangkut suplai untuk tentara Inggris dicegat. Bantuan pangan yang dijatuhkan dari udara juga jatuh kepada pasukan Indonesia.
Setelah dua hari tidak menerima makanan dan minuman  serta korban yang jatuh di pihak mereka sangat besar, Pasukan pemenang PD II yang terkenal gagah berani ini keok dan mengibarkan bendera putih. Mallaby sadar kalau pertempuran tidak dihentikan pasukan Inggris akan tersapu bersih dari Surabaya.
Pimpinan tentara Inggris menyadari bahwa pertempuran ini tidak akan bisa dihentikan begitu saja melihat   rakyat Indonesia yang begitu bersemangat. Harus ada  ada pemimpin Indonesia yang  berpengaruh memerintahkan baru pertempuran ini berhenti. Dan mereka tahu hanya Sukarno lah pemimpin yang bisa menghentikannya.
Panglima tertinggi tentara sekutu untuk Asia timur Letjen Sir Philip Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai pertempuran di Surabaya. Ia sangat mengkhawatirkan nasib pasukannya yang sudah kalah telak. Dengan terburu-buru dia minta bertemu dengan presiden Sukarno. Saat itu presiden sedang tidur, ia mendesak agar dibangunkan segera. Begitu paniknya sekutu waktu itu.

Atas permintaan sekutu, Presiden Sokarno berangkat ke Surabaya dengan pesawat yang mereka sediakan. Ini menunjukkan bahwa inggris memang sudah tidak berdaya untuk menghentikan pertempuran.
Begitu sampai di Surabaya Presiden Sokarno lansung diajak berunding, Pasukan Indonesia yang sedang berada diatas angin patuh kepada Pemimpin mereka dan pertempuran dihentikan. Sehingga selamatlah sisa-sisa pasukan Inggris dari kepunahan ( bersambung “ Pertempuran Surabaya 10 November 1945)
  Sumber: Agung Pribadi, 2014. Gara-gara Indonesia. Depok: AsmaNadia Publishing House.

PASUKAN INGGRIS YANG DIGDAYA PEMENANG PERANG DUNIA II KALAH TELAK DALAM PERTEMPURAN SURABAYA

(HARI-HARI MENJELANG 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA)
PART I

Pasukan Inggris yang gagah perkasa, penuh percaya diri dan pongah mendapat pengalaman pahit kalah telak dan terancam punah dalam pertempuran dengan pasukan dan rakyat Indonesia yang penuh semangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam perang dunia II yang seru dengan lawan yang seimbang tidak satu pun perwira setingkat jenderal yang tewas. Namun di Surabaya dua jenderal  Inggris tewas dengan menggenaskan. Bangsa Indonesia yang cinta damai namun berprilaku nekat bisa saja menghabisi pasukan sekuat apapun.


Belum genap satu bulan bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, tentara Inggris mendarat di Jakarta pada tanggal 15 September 1945. Kedangan pasukan Inggris diterima secara resmi oleh rakyat Indonesia karena misi mereka adalah untuk melucuti tentara jepang,
Kemenangan sekutu pada PD II membuat pimpinan  dan tentaranya terjebak dalam euphoria, merasa kuat dan tidak ada yang berani melawannya. Lucunya Belanda yang tidak punya andil dalam kemenangan PD II, setelah sekutu menang, mereka ingin mendapatkan manfaat yzng sebesar-besarnya untuk kembali menguasai Indonesia, yang dulu secara mudah menyerah  kepada Jepang.
Bangsa belanda yang sebelumnya lari dan bersembunyi di Australia, kembali ke Indonesia seperti pemanang perang  dan mereka merayakan kemenangan seolah-olah mereka yang menang.
Di Surabaya, Belanda mengadakan pesta pada tanggal 19 September 1945 di hotel Yamato. Atau hotel Oranye menurut sebutan Belanda. Mulanya pestanya tidak menjadi masalah, tapi mereka mengibarkan pula bendera mereka merah putih biru. Dan ini berarti tidak mengindahkan kemerdekaan Indonesia.

Keruan saja pemuda Surabaya marah. Awalnya mereka minta bendera itu diturunkan, namun belanda secara arogan menolak bahkan ada yang melepaskan tembakan. Mereka merasa aman karena ada pasukan Inggris yang menjaga. Dari adu mulut akhirnya terjadi baku hantam yang kahirnya melibatkan senjata. Berbekal senjata api dan bamboo runcing pemuda Surabaya menyerang kelompok belanda tersebut dan seorang perwira belanda tewas. Perwira itu adalah Mr. Ploeman yang diduga sebagai walikota Surabaya bentukan Belanda. Melihat kejadian ini orang Belanda yang ada di sana lari pontang panting. Lagu Indonesia raya segera berkumandang dipimpin oleh Bung Tomo.

Tentara sekutu mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tentara Inggris yang datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Pasukan yang datang ini adalah Bigade 49 yang terkenal sebagai Pemberani yang memenangkan pertempuran demi pertempuran di Birma melawan Jepang. Mereka berjumlah sekitar 5000-6000 pasukan. Dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby. ( Bersambung http://windowofthewords.blogspot.co.id/2015/11/pasukan-inggris-yang-digdaya-pemenang_7.html)
Sumber: Agung Pribadi, 2014. Gara-gara Indonesia. Depok: AsmaNadia Publishing House.

Sabtu, 04 Juli 2015

MENYIMAK SEPAK TERJANG SI JAGAL WESTERLING DI INDONESIA (8)

MENGULTIMATUM  REPUBLIK INDONESIA SERIKAT


Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah suatu ultimatum. Ia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar. 




Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, namun juga di pihak Belanda dan dr. H.M. Hirschfeld (kelahiran Jerman), Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) yang baru tiba di Indonesia. Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerjasama dengan Westerling.

Beberapa hari kemudian, Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa pihak Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling. Sebelum itu, ketika A.H.J. Lovink masih menjabat sebagai Wakil Tinggi Mahkota Kerajaan Belanda, dia telah menyarankan Hatta untuk mengenakan pasal exorbitante rechten terhadap Westerling. Namun demikian Westerling sulit tertangkap karena dia memiliki banyak koneksi politik-militer di wilayah Jakarta dan Bandung, bahkan patut diduga aksi Westerling ini juga didukung oleh sebagian unsur perwakilan Belanda di Indonesia.

Pada tanggal 22 Januari 1950, Komandan KST/RST di Batujajar Jawa Barat, Letnan Kolonel Borghouts, melaporkan bahwa sejumlah anak buahnya telah melakukan desersi. Mayor KNIL G.H. Christian dan Kapten KNIL J.H.W. Nix juga melaporkan, bahwa kompi "Erik" yang berada di Kampemenstraat, juga telah melakukan desersi serta bergabung dengan APRA untuk ikut dalam kudeta. Dari kepolisian Belanda Inspektur van Beelden memimpin anak buahnya membantu aksi Westerling.

Operasi militer yang dilakukan oleh Westerling bertujuan menguasai dua kota vital di Republik, Jakarta dan Bandung. Titik temu gerombolan APRA dipusatkan di Cimahi dan Padalarang yang mana kemudian pasukan dibagi dua, sekitar 800 tentara menyerbu ke kota Bandung dan sisanya menuju Jakarta. Operasi APRA dimulai sekitar pukul 04.30 WIB tanggal 23 Januari 1950. 




Dalam serangan ke Bandung, pihak APRA memakan korban sekitar 79 anggota tentara Indonesia termasuk beberapa perwira menengah diantaranya Letnan Kolonel Lembong dan 6 orang penduduk sipil (Antara, 25-1-1950). Sedangkan serangan ke ibukota Republik batal dilaksanakan karena kekurangan amunisi. Truk-truk yang mengangkut persenjataan yang digunakan untuk bertempur di Jakarta tidak pernah sampai di Padalarang.


Ketika peristiwa APRA meletus, tanggung jawab keamanan kota Bandung masih berada di tangan tentara Belanda, dan sementara itu pusat kekuatan Divisi Siliwangi yang dipimpin oleh Kolonel Sadikin berada di kota Subang. Hal inilah yang memudahkan tentara APRA menguasai Bandung. Kepala Staf Angkatan Perang, Kolonel T.B. Simatupang yang berada di Jakarta memerintahkan Divisi Siliwangi untuk melakukan serangan balasan.

Karena kota Bandung masih berada dalam pengawasan KNIL, maka sebelum dilakukan serangan balasan Divisi Siliwangi mengutus wakilnya, Letkol Ery Sudewo, untuk berunding dengan Mayor Jenderal Engels, Komandan KNIL di Bandung, agar ketika dilakukan penyerangan Divisi Siliwangi tidak salah sasaran. Namun demikian dari perundingan tersebut diperoleh kesepakatan yaitu Mayjend Engels menjamin kalau gerombolan APRA akan mundur dari kota Bandung pada sore hari tanggal 23 Januari 1950. 


Setelah gerombolan APRA mundur dari Bandung, mereka dikejar-kejar oleh Divisi Siliwangi, sehingga terjadi pertempuran di beberapa tempat seperti di Cirandang, Mande, Cikalong, Pacet, Cipeuyeum, Cisokan, Cianjur dan lainnya sekitar tanggal 24 hingga 27 Januari 1950. Hasilnya Divisi Siliwangi berhasil menangkap 300 orang gerombolan APRA. Tentara yang tergabung dalam APRA kemudian diserahkan ke pengadilan militer Belanda. Westerling sendiri bagaikan belut berhasil menghilang dan muncul di Belanda sekitar bulan Agustus 1950.

Sabtu, 20 Juni 2015

MENYIMAK SEPAK TERJANG SI JAGAL WESTERLING DI INDONESIA (7)

MEMBENTUK PASUKAN RATU ADIL

Di Sulawesi Selatan pasukan belanda dengan pimpinannya Westerling sukses membantai rakyat Indonesia dengan bengisnya. Namun di Pulau Jawa, meskipun berhasil merebut kota-kota besar  termasuk ibukota RI ketika itu, Yogyakarta, pada agresi ke-2 nya, pasukan belanda mendapat perlawanan yang gigih  secara gerilya dari pasukan TNI. Puncaknya ketika Yogyakarta berhasil dikuasai selama 6 jam oleh TNI, mata dunia terbuka. Bahwa klaim Belanda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada adalah tidak benar. Kenyataan ini merupakan tamparan  bagi belanda. Yang akhirnya, meskipun tidak ikhlas terpaksa mengakui kedaulatan  Indonesia pada Konfresi meja Bundar.
Yang paling kecewa dengan pengakuan kedaulatan ini adalah  pihak meliter dengan pimpinan tertingginya Jenderal Simon Spoor. Ia berusaha agar Belanda untuk tetap berkuasa di Indonesia. Maka  mulailah ia mengadakan intrik-intrik untuk mengacau Indonesia. Untuk itu ia memerlukan dukungan si Jagal Westerling.

Panglima tentara Belanda di Indonesia, Letnan Jenderal Hendrik Simon Spoor yang begitu ambisius untuk menduduki Indonesia merasa sangat kecewa dengan sikap para politisi Belanda yang menginginkan perdamaian dengan pihak Republik. Diam-diam Spoor mengajak bekas kapten KNIL, Raymond Paul Pierre Westerling untuk melancarkan sebuah kudeta terhadap Republik.

Spoor bertemu dengan Westerling di bulan Februari 1949, dan sejak bulan Maret 1949 Westerling begitu bersemangat menanggapi ide Spoor serta kemudian mempersiapkan diri baik dari sarana, prasarana dan logistik untuk melakukan kudeta. Spoor sendiri tidak bisa melihat aksi yang dilakukan oleh Westerling karena keburu meninggal pada bulan Mei 1949.

Kapten Westerling sebenarnya adalah bagian dari Korps Speciale Troepen/Regiment Speciale Troepen (KST/RST) yang ditunjuk oleh Spoor untuk memimpin penyerangan ke Maguwo dan Yogyakarta di bulan Desember 1948, tapi satu bulan sebelumnya Westerling dipecat dari dinas militer karena melakukan pembantaian terhadap 156 penduduk Tjikalong-Tasikmalaja serta membakar habis 165 rumah dan 800 ton beras, penduduk Tjikalong yang dibantai dituduh oleh Westerling membantu gerilya pasukan Siliwangi. Setelah dipecat dari dinas militer dia menjalankan usaha transport onderneming di sekitar wilayah Bandung dan Jakarta.

Langkah awal yang dilakukan Westerling adalah membentuk RAPI (Ratu Adil Persatuan Indonesia), penggunaan kata “Ratu Adil” dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan yang luas dari masyarakat kelas bawah khususnya di daerah Pasundan yang begitu mendambakan kedatangan “Ratu Adil” atau Imam Mahdi atau Heru Cokro. Dan terbukti kemudian strateginya ini berhasil.

Setelah itu dia membentuk sayap militer RAPI yang disebut APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), masyarakat desa yang terbius dengan “Ratu Adil” segera ditampung ke dalam APRA dalam bentuk Tentara Keamanan Desa (TKD) yang didoktrin oleh Westerling untuk menjaga tanah Pasundan dari intervensi Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Laporan tentang pembentukan RAPI oleh Westerling diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949

Namun sebenarnya kekuatan utama APRA tidak terletak pada TKD, namun pada pasukan gabungan yang Westerling bangun sendiri. Mereka terdiri dari, mantan anak buah dan rekan-rekan Westerling di KST/RST, anggota KNIL yang kecewa dengan restrukturisasi di tubuh Angkatan Perang RIS serta tidak ketinggalan beberapa anggota NEFIS (the Netherlands Forces Intelligence) turut pula membantu. Tidak terlalu sulit bagi Westerling mempengaruhi teman-teman dan anak buahnya sendiri terutama yang berada di KST/RST.

Tidak hanya membangun kekuatan militer, Westerling pun membangun kekuatan ekonomi dan politik. Kekuatan ekonomi dibangun Westerling dengan cara menjalin hubungan dengan beberapa pengusaha Cina yang anti Republik seperti Tjie Yoek Moy, Tjia Pit Kay, Nio Peng Liang dan lainnya. Perusahaan-perusahaan Belanda seperti BPM (Bataafsche Petroleum Maatscappij) dan KPM (Koninklij Packetvart Maatschapij) juga disinyalir membantu keuangan gerakan Westerling ini.

Secara politik, Westerling mendekati tokoh-tokoh Republik yang kecewa, khususnya tokoh-tokoh lokal Pasundan seperti Wiranatakusuma yang menjabat sebagai Wali Negara Pasundan. Pada aksi APRA di kota Bandung pada bulan Januari 1950, terlihat mobil kemenakan Wiranatakusuma bergabung dengan pasukan APRA. Namun demikian salah satu kesuksesan Westerling dalam membangun jaringan politik adalah dia berhasil mendekati seorang tokoh nasional yaitu Sultan Hamid II (Sultan Pontianak) untuk terlibat dalam gerakannya.

Westerling bertemu dengannya pada tanggal 22 Desember 1949 di Hotel Des Indies Jakarta. Pada pertemuan tersebut Weterling mengakui telah membentuk APRA dengan kekuatan 15.000 pasukan. Saat itu Westerling menawarkan komando kepada Hamid. Pada awalnya Sultan Hamid II menolak, tetapi di awal bulan Januari 1950, ia menerima tawaran Westerling karena merasa tidak puas dengan posisinya sebagai Menteri Negara tanpa Portofolio. Jabatan yang diinginkan oleh Sultan Hamid II adalah menteri luar negeri dan menteri pertahanan. Kemudian dalam otobiografinya, Mémoires, yang terbit tahun 1952, Westerling mengaku, bahwa telah dibentuk Kabinet Bayangan di bawah pimpinan Sultan Hamid II dari Pontianak. (Bersambung)

Sabtu, 06 Juni 2015

SULTAN NUKU SULTAN YANG TIDAK TERTAKLUKKAN OLEH KEKUATAN ASING


Muhammad Amiruddin atau lebih dikenal dengan nama Sultan Nuku (Soasiu, Tidore, 1738 - Tidore, 14 November 1805) adalah seorang Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Dia merupakan sultan dari Kesultanan Tidore yang dinobatkan pada tanggal 13 April 1779, dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan”

Muhamad Amiruddin alias Nuku adalah putra Sultan Jamaluddin (1757–1779) dari Kerajaan Tidore. Nuku juga dijuluki sebagai Jou Barakati artinya Panglima Perang. Pada zaman pemerintahan Nuku (1797 – 1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran.
Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh Kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.


Pemerintah Kolonial Belanda yang berpusat di Batavia (kini Jakarta) dengan gubernur-gubernurnya yang ada di Ambon, Banda dan Ternate selalu berhadapan dengan raja pemberontak ini yang terus mengganjal kekuasaan Kompeni (Belanda) tanpa kompromi. Mereka semua tidak mampu menghadapi konfrontasi Nuku. Nuku merupakan musuh bebuyutan yang tidak bisa ditaklukan, bahkan tidak pernah mundur selangkahpun saat bertempur melawan Belanda di darat maupun di laut.


Ia adalah seorang pejuang yang tidak dapat diajak kompromi. Semangat dan perjuangannya tidak pernah padam, walaupun kondisi fisiknya mulai dimakan usia. Kodrat rohaninya tetap kuat dan semangat tetap berkobar sampai ia meninggal dalam usia 67 tahun pada tahun 1805. 

Jumat, 05 Juni 2015

VO NGUYEN GIAP JENDERAL VIETNAM YANG MEMATAHKAN DOMINASI NEGARA BARAT

DOMINASI NEGARA BARAT

Setelah memudarnya Khalifah Ustmaniah, hampir semua belahan dunia ini di dominasi oleh bangsa Barat, seperti Inggris, Belanda, Perncis, Spanyol, Amerika dan lain lainnya. Terutama di Asia, Perancis, Inggris, Belanda dan Spanyol mengangkangi kawasan ini selama ratusan tahun. Mereka dengan pongahnya menumpas setiap pergerakan anak bangsa yang ingin bangkit dari penindasan. Namun setelah perang dunia ke-2 Vietnam berhasil mematahkan mitos barat tidak terkalahkan itu dalam suatu pertempuran di Dien Bie Phu Vietnam.

Dalam pertempuran yang sengit ituPrancis berusaha menciptakan sebuah basis pemasokan lewat udara di Dien Bien Phu, jauh di daerah perbukitan Vietnam. Tujuannya adalah untuk memotong jalur pasokan Viet Minh ke Laos. Sebaliknya, Viet Minh di bawah Jenderal Vo Nguyen Giap, sanggup mengitari dan mengepung Prancis. Pecahlah pertarungan sengit di darat. Viet Minh menduduki daerah perbukitan di sekitar Dien Bien Phu, dan mampu menembak ke bawah secara akurat ke posisi-posisi Prancis. Pasukan Prancis berulang-ulang membalas serangan-serangan Viet Min di posisi-posisi mereka, dengan sesekali menerjunkan pasukan-pasukan tambahan. Namun pada akhirnya Viet Minh berhasil merebut basis pertahanan Prancis dan memaksa Prancis menyerah dengan kehilangan yang sangat besar mencapai 75.000 personil
Pertempuran Dien Bien Phu (Chiến dịch Điện Biên Phủ) adalah yang terakhir dalam Perang Indochina Pertama antara Prancis dan Viet Minh. Pertempuran ini terjadi antara Maret dan Mei 1954, dan berakhir dengan kekalahan Prancis secara besar-besaran yang akhirnya menyudahi peperangan itu.

Arsitek kemenangan Vietnam terhadap Perancis itu adalah Jenderal Vo Nguyen Giap. Giap memimpin tentara gerilya yang memakai sandal jepit dari ban bekas, menyeret artileri di wilayah pegunungan, mengepung dan menghancurkan pasukan Prancis di Dien Bien Phu pada 1954. Kemenangan itu tak hanya membuat Vietnam merdeka, tapi juga menghapus kolonialisme di seluruh Indochina. 
Jenderal yang dijuluki Napeleon Merah itu lahir tanggal 25 Agustus 1911. Awalnya ia tidak berminat pada militer dia mempelajari hukum di Hanoi. Tamat kuliah Ia memilih profesi sebagai seorang guru dan jurnalis. Ia meluncurkan beberapa jurnal dan surat kabar sewaktu masih berusia 20-an. Secara pribadi ia menjadi seorang penyair yang berbakat. Ia bercita-cita menjadi seorang ahli sejarah, tetapi sejarah itu sendiri yang menghalanginya - malahan ia menghabiskan waktu 40 tahun untuk membuat sejarah.
Pada usia 20-an itu juga ia adalah seorang sosialis muda yang berjuang untuk mengakhiri kolonialisme dan meraih kemerdekaan bangsanya. Ia menjadi seorang revolusioner dan bergabung dalam Partai Komunis Vietnam tahun 1931. Pada awalnya, ia mengagumi Amerika Serikat. Ia memandang Perang Kemerdekaan Amerika sebagai suatu inspirasi bagi perjuangan Vietnam untuk merebut kemerdekaan dan martabat dari kolonial Perancis.
Tetapi tanggapan Perancis terhadap pergerakan kemerdekaan ini sangat kejam. Bahkan sebelum Perang Dunia II, pihak berwenang kolonial Perancis yang berkedudukan di Hanoi, menangkap ayahnya, adik perempuan serta adik ipar Vo Nguyen Giap. Merekadisiksa dan dibunuh. Kolonial ini pun melakukan hal yang sama terhadap istrinya, Nguyễn Thị Quang Thái, ibu dari putrinya Hong Anh. Sedangkan Giap sendiri berhasil menyelamatkan diri ke China

Pertama kali Giap menunjukkan keunggulannya sebagai pemimpin pasukan adalah sewaktu tahun terakhir Perang Dunia II, ketika ia sangat berperan dalam mengatur perlawanan terhadap pasukan pendudukan Jepang.
Setelah Perancis berhasil diusir dari  Vietnam, Amerika yang dalam rangka untuk menangkal perkembangan komunis bercokol di Vietnam selatan. Ho Chi Min sebagai kepala pemerintahan di Vietnam memerintah kan Jenderal Vo nguyen Giap untuk memimpin perang mengusir bangsa asing itu. Maka terjadilah pertempuran panjang satu dekade yang menelan korban  58 ribu tentara Amerika Serikat dan sekitar 3 juta penduduk sipil dan militer Vietnam. Hasil dari peperangan ini sekali lagi menunjukkan ketabahan dan keuletan rakyat Vietnam. Hanya di Vietnam lah Amerika sebagai negara super power pernah  kalah dengan telak dan lari kocar kacir meninggalkan medan perang.
Jasa Vo nguyen Giap lain yang akan dikenang dunia adalah keberhasilannya menduduki Kamboja untuk menghentikan pembantaian masal yang dilakukan Khemer merah di bawah kepemimpinan Pol Pot yang telah mengeksekusi 3 juta dari penduduk kamboja yang wakktu itu berjumlah 7 juta jiwa.

Vo Nguyen Giap termasuk pemimpin revollusi yang  beruntung. Ia berumur panjang dan bisa menikmati hasil perjuangannya dengan menyaksikan Vietnam beberbenah diri setelah perang kemudian menjadi negara yang makmur. Suatu kebahagian yang tidak dimiliki oleh revolusioner lain di negara tetangganya seperti China dan Uni soviet yang rata-rata setelah perang pembebasan berakhir para revolusioner itu disingkirkan; disiksa atau di hukum mati oleh pemerintah yang mereka dukung dengan taruhan nyawa.
Giap meninggal dengan tenang di Hanoi tanggal 4 Oktober 2013 dalam usia 102 tahun.


MENYIMAK SEPAK TERJANG SI JAGAL WESTERLING DI INDONESIA (6)

KORBAN


Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepadaDewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.
Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya “hanya” 600 orang.
Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh izin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.


Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional, karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak ada kadaluarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.

Selasa, 02 Juni 2015

MENYIMAK SEPAK TERJANG SI JAGAL WESTERLING DI INDONESIA (5)

PASCA OPERASI MILITER

Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger – VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.

Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, istilah Belanda untuk para pejuang. Di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara besar-besaran penuh dengan pujian. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: “Pasukan si Turki kembali.” Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.
Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.

Sumber :
 https://sejarahsemarang.wordpress.com/zaman-belanda/raymond-westerling/