Rabu, 29 Mei 2024

Kematian Tragis Franz Ferdinand Dari Austria yang Memicu Perang Dunia Pertama


Kematian adalah hal yang lumrah dalam hidup ini, siapa saja pasti mengalami kematian. Setiap hari ada saja manusia yang meninggal. Namun kematian Franz Ferdinand dari Austria ini menjadi pemicu Perang dunia pertama yang menimbulkan kehancuran yang maha dasyat dan menelan  korban lebih 16 juta orang baik dari pihak militer maupun rakyat sipil



Franz Ferdinand, Archduke Austria-Este, adalah pewaris takhta Austro-Hungaria yang kematiannya memicu Perang Dunia I. Franz Ferdinand lahir pada 18 Desember 1863 di Graz, Austria. Dia menjadi pewaris takhta setelah kematian sepupunya, Crown Prince Rudolf, pada tahun 1889 dan ayahnya, Archduke Karl Ludwig, pada tahun 1896. Ferdinand dikenal sebagai seorang reformis dalam kerajaan yang sering kali konservatif, dengan pandangan bahwa Austro-Hungaria perlu melakukan perubahan untuk bertahan hidup di era modern.


Kematian Franz Ferdinand terjadi pada 28 Juni 1914 di Sarajevo, ibukota Bosnia-Herzegovina, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Dia dan istrinya, Sophie, Duchess of Hohenberg, sedang melakukan kunjungan resmi ke kota tersebut. Bosnia-Herzegovina baru saja dianeksasi oleh Austro-Hungaria pada tahun 1908, yang memicu ketegangan besar dengan nasionalis Serbia yang menginginkan wilayah tersebut menjadi bagian dari Serbia.

Pada hari itu, pasangan kerajaan tersebut menjadi target kelompok nasionalis Serbia yang dikenal sebagai "Black Hand" (Tangan Hitam). Ini adalah organisasi rahasia yang bertujuan untuk menyatukan semua wilayah Slavia Selatan menjadi sebuah negara merdeka. Salah satu anggota Black Hand, Gavrilo Princip, berperan penting dalam pembunuhan tersebut.

Serangkaian peristiwa terjadi pada hari yang tragis itu. Pertama, saat Franz Ferdinand dan Sophie sedang dalam perjalanan melalui Sarajevo, sebuah bom tangan dilemparkan ke arah konvoi mereka oleh Nedeljko Čabrinović, anggota Black Hand lainnya. Bom tersebut meleset dari mobil Franz Ferdinand dan meledak di belakangnya, melukai beberapa orang dalam konvoi.



Meskipun insiden itu, Franz Ferdinand melanjutkan rencana kunjungannya dan kemudian memutuskan untuk mengunjungi korban yang terluka di rumah sakit. Pada saat mereka kembali ke jalan, mobil mereka mengambil rute yang salah dan secara kebetulan melewati Gavrilo Princip yang sedang berdiri di dekat jembatan Latin, sebuah lokasi strategis di kota tersebut.



Princip, yang melihat kesempatan ini, mendekati mobil yang berhenti dan menembak Franz Ferdinand dan Sophie dari jarak dekat. Sophie tewas seketika, sementara Franz Ferdinand, terluka parah, meninggal beberapa menit kemudian. Kata-kata terakhirnya adalah permintaan agar Sophie tetap hidup untuk anak-anak mereka.

Pembunuhan ini memicu serangkaian peristiwa yang dikenal sebagai "Krisis Juli," di mana kerajaan-kerajaan Eropa yang terkait dengan Austro-Hungaria dan Serbia terlibat dalam diplomasi intens dan ultimatum. Austro-Hungaria, dengan dukungan dari Jerman, memberikan ultimatum kepada Serbia yang berisi tuntutan yang sangat keras. Serbia, meskipun menerima sebagian besar tuntutan, menolak beberapa poin penting.


Pada 28 Juli 1914, sebulan setelah pembunuhan Franz Ferdinand, Austro-Hungaria menyatakan perang terhadap Serbia. Aliansi dan perjanjian yang sudah ada antara negara-negara Eropa lainnya menyebabkan perang ini berkembang dengan cepat menjadi konflik global. Rusia mendukung Serbia, Jerman mendukung Austro-Hungaria, dan kemudian negara-negara seperti Prancis, Britania Raya, dan akhirnya Amerika Serikat ikut terlibat dalam perang yang dikenal sebagai Perang Dunia I.


Kematian Franz Ferdinand dianggap sebagai pemicu langsung dari Perang Dunia I, tetapi akar dari konflik tersebut lebih dalam, mencakup persaingan kekuatan imperialisme, nasionalisme, aliansi militer, dan ketegangan politik yang telah lama berkembang di Eropa. Pembunuhan ini membuka jalan bagi salah satu konflik paling menghancurkan dalam sejarah manusia, yang mengubah peta politik dunia dan menyebabkan kematian jutaan orang.

 

Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantun Chat GPT

2. Gambar diambil dari google


Kamis, 23 Mei 2024

Kematian Tragis Muammar Gaddafi, Pemimpin Libya Yang Kontraversial


 Muammar Gaddafi, yang memerintah Libya selama lebih dari empat dekade, adalah salah satu pemimpin paling kontroversial di dunia. Kematian Gaddafi pada 20 Oktober 2011 menandai berakhirnya era kepemimpinan yang penuh dengan ketidakstabilan, represi, dan eksentrik.



Gaddafi lahir pada tahun 1942 di sebuah keluarga suku Bedouin di dekat Sirte, Libya. Ia memulai karir militernya pada akhir 1950-an dan mengambil alih kekuasaan melalui kudeta tak berdarah pada tahun 1969, menggulingkan Raja Idris I. Setelah mengambil alih kekuasaan, Gaddafi mengubah Libya menjadi negara sosialis berdasarkan ideologi yang dia sebut "Teori Ketiga Internasional" dalam Bukunya, "Buku Hijau". Teori ini merupakan campuran antara sosialisme, pan-Arabisme, dan Islam.



Kebijakan dalam negeri Gaddafi sering kali penuh dengan kontroversi. Ia menasionalisasi banyak industri, terutama minyak, yang menjadi tulang punggung ekonomi Libya. Di bawah pemerintahannya, pendapatan dari minyak digunakan untuk meningkatkan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan. Namun, di sisi lain, ia juga dikenal sebagai diktator yang menindas lawan-lawan politiknya. Gaddafi menggunakan aparat keamanan negara untuk mengekang kebebasan berekspresi dan melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia.



Dalam hal kebijakan luar negeri, Gaddafi sering kali bertindak sebagai antagonis bagi Barat. Ia dituduh mendukung berbagai kelompok teroris internasional dan memainkan peran dalam beberapa serangan teroris, termasuk pemboman pesawat Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia pada tahun 1988. Hal ini menyebabkan sanksi internasional dan isolasi diplomatik terhadap Libya.


Namun, pada awal 2000-an, Gaddafi mulai memperbaiki hubungannya dengan negara-negara Barat. Ia setuju untuk menghentikan program senjata pemusnah massal Libya dan membayar kompensasi kepada keluarga korban Lockerbie, yang pada akhirnya menghasilkan pencabutan sebagian besar sanksi internasional. Meskipun demikian, reformasi yang lebih dalam dan perubahan signifikan dalam politik dalam negeri tidak pernah benar-benar terjadi.


Kematian Gaddafi terjadi dalam konteks Arab Spring, gelombang protes dan revolusi yang melanda Timur Tengah dan Afrika Utara pada awal 2011. Di Libya, protes dimulai pada Februari 2011 dan dengan cepat berkembang menjadi konflik bersenjata antara pasukan pro-Gaddafi dan pemberontak. NATO turut campur dalam konflik ini dengan melakukan serangan udara untuk melindungi warga sipil dan mendukung pemberontak.



Pada bulan Oktober 2011, pasukan pemberontak berhasil merebut Sirte, kota kelahiran Gaddafi dan salah satu benteng terakhirnya. Gaddafi berusaha melarikan diri tetapi tertangkap oleh pemberontak. Dalam penangkapan yang kacau, Gaddafi disiksa dan akhirnya dibunuh oleh pemberontak. Kematiannya direkam dan disebarluaskan melalui media sosial, menyebabkan reaksi beragam dari seluruh dunia. Beberapa orang melihatnya sebagai akhir yang pantas bagi seorang diktator, sementara yang lain mengkritik cara kematiannya sebagai tindakan yang tidak manusiawi.


Dengan kematian Gaddafi, Libya memasuki periode baru yang penuh ketidakpastian. Harapan untuk transisi damai ke demokrasi dengan cepat pupus karena negara tersebut tenggelam ke dalam perang saudara dan kekacauan politik yang berkelanjutan. Hingga saat ini, Libya masih berjuang untuk menemukan stabilitas dan membangun kembali negaranya setelah bertahun-tahun kekuasaan otoriter di bawah Gaddafi.


Kematian Muammar Gaddafi mengakhiri era yang penuh kontroversi dan membuka babak baru bagi Libya, tetapi tantangan besar tetap ada di negara yang masih berjuang untuk menemukan jalannya menuju stabilitas dan perdamaian. Libya menjadi negara demokrasi, namun di sisi lain rakyatnya mengeluhkan tidak ada lagi Pendidikan, biaya Kesehatan gratis dan berbagai fasilitas lainnya yang selama ini disediakan oleh Gaddafi

Catatan :

1. Teks dibuat dengan bantuan Chat GPT

2. Gambar dari google

Selasa, 21 Mei 2024

Kematian Tragis John F. Kennedy President Amerika Serikat ke-35 Yang Diselimuti Misteri


Kematian tragis John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35, merupakan salah satu peristiwa paling mengejutkan dan menyedihkan dalam sejarah Amerika Serikat. John F. Kennedy, sering disebut JFK, ditembak mati pada 22 November 1963, saat melakukan perjalanan di Dallas, Texas. Kejadian ini tidak hanya mengguncang Amerika Serikat, tetapi juga dunia, meninggalkan dampak yang mendalam dan berkelanjutan.



Pada hari naas tersebut, JFK berada di Dallas sebagai bagian dari tur politiknya menjelang pemilihan presiden tahun 1964. Bersama dengan istrinya, Jacqueline Kennedy, Gubernur Texas John Connally, dan istrinya, Nellie Connally, mereka berkeliling kota dalam konvoi mobil terbuka. Saat melintasi Dealey Plaza, tembakan terdengar. JFK terkena peluru di bagian kepala dan leher, sementara Gubernur Connally juga terluka parah. Setelah segera dibawa ke Rumah Sakit Parkland Memorial, JFK  dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13:00 CST.



Pembunuhan ini dengan cepat memicu penyelidikan besar-besaran. Lee Harvey Oswald ditangkap sebagai tersangka utama hanya beberapa jam setelah penembakan. Oswald sendiri kemudian dibunuh dua hari kemudian oleh Jack Ruby saat dalam tahanan polisi, menambah lapisan misteri dan kontroversi seputar pembunuhan JFK. Pemerintah AS segera membentuk Komisi Warren untuk menyelidiki peristiwa ini. Laporan akhir Komisi Warren menyimpulkan bahwa Oswald bertindak sendiri dalam membunuh Kennedy, tetapi banyak orang tetap skeptis terhadap temuan tersebut, sehingga berbagai teori konspirasi berkembang selama bertahun-tahun.



Kematian JFK bukan hanya tragedi bagi keluarga Kennedy, tetapi juga sebuah pukulan bagi bangsa Amerika. Kennedy adalah simbol harapan dan perubahan bagi banyak orang. Sebagai presiden, ia dikenal karena visi dan idealismenya, termasuk program ruang angkasa yang ambisius, upaya untuk hak-hak sipil, dan pendekatan baru dalam kebijakan luar negeri yang bertujuan untuk meredakan ketegangan Perang Dingin.



Kematian JFK juga menandai perubahan signifikan dalam cara masyarakat Amerika memandang kepemimpinan dan politik. Era optimisme dan keyakinan pada pemerintahan yang lebih baik mulai bergeser menuju kecurigaan dan sinisme. Banyak yang merasa bahwa mereka kehilangan seorang pemimpin yang karismatik dan visioner yang dapat membawa negara menuju masa depan yang lebih cerah.



Secara budaya, kematian JFK meninggalkan jejak yang mendalam. Jacqueline Kennedy, dengan keanggunan dan ketenangannya, menjadi simbol kekuatan di masa berkabung. Upacara pemakaman Kennedy yang penuh kehormatan dan duka cita, disiarkan langsung ke seluruh dunia, memperkuat warisannya sebagai seorang pemimpin yang dicintai.

Bertahun-tahun setelah peristiwa tragis tersebut, ingatan tentang JFK tetap hidup. Monumen, museum, dan buku-buku terus menghormati warisannya. Kematian JFK sering dianggap sebagai titik balik dalam sejarah Amerika, mengingatkan kita akan rapuhnya kehidupan dan betapa cepatnya nasib bangsa dapat berubah.



Secara keseluruhan, kematian tragis John F. Kennedy mengungkapkan betapa mendalamnya pengaruh seorang pemimpin karismatik terhadap bangsanya dan bagaimana peristiwa tak terduga dapat mengubah arah sejarah. Kennedy dikenang tidak hanya sebagai presiden yang dibunuh, tetapi sebagai simbol harapan, perubahan, dan idealisme yang terus menginspirasi generasi demi generasi. 

Note : gambar diambil dari google

Kamis, 25 April 2024

Fakta Mengerikan, Kematian Patrice Lumumba Perdana Mentri Dari Republik Kongo Pertama tahun 1960-61

 

Pada tahun 1960, Republik Demokratik Kongo (dulunya dikenal sebagai Kongo Belgia) meraih kemerdekaannya dari Belgia setelah bertahun-tahun penjajahan. Namun, perjalanan menuju kemerdekaan yang seharusnya membawa kegembiraan bagi bangsa Kongo ternyata diwarnai oleh intrik politik, ambisi pribadi, dan campur tangan asing yang merusak. Di tengah pergolakan politik ini, Patrice Lumumba, seorang figur karismatik yang dipandang sebagai simbol perjuangan kemerdekaan, naik menjadi Perdana Menteri yang pertama dari Kongo yang merdeka.


Lumumba lahir pada tahun 1925 di wilayah Kasai di Kongo. Dia adalah seorang intelektual yang berpendidikan dengan keberanian politik yang besar. Pemikiran anti-kolonialnya dan visi untuk mengubah Kongo menjadi negara yang merdeka, makmur, dan adil membuatnya dihormati oleh banyak orang di dalam dan luar negeri. Namun, kepemimpinannya segera dihadapi dengan tantangan serius.


Ketegangan politik di Kongo meningkat segera setelah kemerdekaan. Provinsi Katanga yang kaya akan sumber daya alam, terutama bijih tembaga, dipimpin oleh Moise Tshombe yang mendeklarasikan kemerdekaan Katanga dari pemerintah pusat Lumumba. Hal ini memicu krisis yang melibatkan campur tangan asing, dengan Belgia dan beberapa perusahaan internasional tertarik untuk mempertahankan akses mereka terhadap kekayaan alam Katanga.


Dalam upaya untuk menegaskan otoritas pemerintah pusat, Lumumba meminta bantuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Namun, dukungan asing terhadap pemerintah Kongo tidak stabil. Terutama, Amerika Serikat dan Belgia melihat Lumumba sebagai ancaman terhadap kepentingan mereka di Kongo. Mereka mulai mendukung gerakan separatis di Katanga, bahkan secara diam-diam menyediakan dukungan militer dan finansial kepada Tshombe.


Pada 5 September 1960, Lumumba dipecat dari jabatannya sebagai Perdana Menteri oleh Presiden Joseph Kasa-Vubu. Tetapi Lumumba menolak untuk mundur dan tetap mempertahankan dukungan dari sebagian besar parlemen. Ini menghasilkan perebutan kekuasaan yang memuncak dalam krisis konstitusional yang mengguncang Kongo.


Pada akhirnya, Lumumba ditangkap oleh pasukan yang setia kepada Kasa-Vubu, yang dikuasai oleh kolonel Jenderal Joseph Mobutu, yang kemudian menjadi presiden. Dia kemudian diserahkan kepada pasukan Katanga yang didukung oleh Belgia. Lumumba disiksa dan dibunuh secara brutal pada 17 Januari 1961, di bawah pengawasan otoritas Belgia dan mungkin dengan dukungan CIA 




Kematian Lumumba tidak hanya merupakan tragedi bagi Kongo, tetapi juga mencerminkan tragedi yang lebih besar dalam perjuangan bangsa-bangsa Afrika untuk kemerdekaan dan kedaulatan. Itu menyoroti campur tangan asing yang merusak dan intrik politik yang melibatkan kepentingan asing dalam urusan dalam negeri Afrika. Lumumba meninggalkan warisan perjuangan untuk kemerdekaan, dan pengorbanannya menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan dan intervensi asing di Afrika.

Note : Gambar diambil dari google

Rabu, 27 Maret 2024

Kejamnya Inggris Ketika Menjajah India, Membiarkan Rakyat Mungal Kelaparan dan Merenggut Nyawa 20 Juta Orang

 

Hampir semua negara Eropa yang menjajah negeri  lain, meninggalkan jejak kekejamannya. Tidak terkecuali Inggris. Salah satu kekejaman yang paling mengerikan selama penjajahan Inggris di India adalah kelaparan buatan, dengan contoh terkenalnya adalah Kelaparan Besar Bengal pada tahun 1770. Kelaparan ini tidak hanya mengakibatkan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya, tetapi juga merenggut jutaan nyawa penduduk Bengal.


Kelaparan Besar Bengal tidak hanya dipicu oleh faktor alamiah seperti kekeringan atau penyakit, tetapi juga disebabkan oleh kebijakan ekonomi yang buruk dari pemerintah kolonial Inggris. Selama abad ke-18, Bengal adalah salah satu produsen makanan terbesar di dunia, tetapi kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh East India Company, yang saat itu mengendalikan Bengal, mengubah Bengal dari pengekspor makanan menjadi pengimpor makanan.

 Perusahaan tersebut memaksakan sistem monopoli di mana petani Bengal dipaksa untuk menanam indigo, opium, dan kapas untuk kepentingan ekonomi Inggris, bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal. Akibatnya, produksi pangan lokal menurun secara signifikan, dan ketika kelaparan melanda Bengal pada tahun 1770, pasokan makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk tidak tersedia.

Selain itu, ketika kelaparan terjadi, pemerintah kolonial Inggris tidak mengambil tindakan yang memadai untuk membantu penduduk Bengal. Mereka tidak hanya gagal menyediakan bantuan pangan yang memadai, tetapi juga mempertahankan kebijakan ekspor makanan dari Bengal ke luar negeri, meningkatkan penderitaan penduduk lokal. Sebaliknya, mereka terus mengeksploitasi sumber daya Bengal untuk kepentingan ekonomi Inggris.


Dampak Kelaparan Besar Bengal sangat mengerikan. Diperkirakan sekitar 10 juta hingga 20 juta orang meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan kekurangan gizi. Penderitaan yang tak terbayangkan dialami oleh penduduk yang terkena dampak, dengan laporan tentang orang yang memakan rumput, kulit, dan bahkan daging manusia untuk bertahan hidup.


 Kelaparan Besar Bengal adalah contoh nyata dari bagaimana kebijakan ekonomi yang tidak berpihak dari pemerintah kolonial Inggris menghasilkan penderitaan massal di antara penduduk India. Hal ini juga menunjukkan bagaimana penjajahan tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga merusak secara ekonomi dan sosial, meninggalkan luka trauma yang mendalam dalam sejarah India

 Catatan :

1. Sumber Bing.com

2. Gambar dari google


CELANA TAKTICAL BLAKHOK CARGO PRIA PANJANG TERMURAH

Celana Panjang pria Taktical Blackhawk termurah, nyaman dan bergensi dipakai saat bersantai pada kegiatan indoor maupun outdoor. Harga sangat terjangkau.

https://shope.ee/9pFjEaNEod


Celana Pendek Pria Celana Taktical Blackhawk

 Celana Cargo Pendek, Celana pendek yang praktis, nyaman dan menyenangkan Ketika bersantai indoor maupun outdoor.Harga tidak menguras dompet. Bisa dibayar di tempat, tunggu apalagi silakan order

https://shope.ee/6zvXq1JHfP

 

Tempat tidur lipat KUCA

Ingin santai tiduran atau duduk bersandar dalam rumah maupun dibawah pohon rindang?

Tempat tidur lipatlah jawabannya

KUCA Tempat Tidur Lipat Terintegrasi Kursi Malas Ranjang Lipat Kursi Santai Kasur Lipat Folding Bed. Harga terjangkau. Lihat juga videonya. 

https://shope.ee/9UeA2Zku92

 


Sabtu, 11 Juni 2022

Harimau Berpartisipasi Mengawal Rombongan PDRI yang Bergerilya di Hutan Sumatra


 Tidak lama setelah ibu kota RI di Yogyakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda II, Belanda berulangkali menyiarkan berita bahwa RI sudah bubar. Karena para pemimpinnya, seperti SoekarnoHatta dan Syahrir sudah menyerah dan ditahan.



Mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki ibu kota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari, Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama Kol. Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra, mengunjungi Mr. Teuku Mohammad Hasan, Gubernur Sumatra/Ketua Komisaris Pemerintah Pusat di kediamannya, untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka meninggalkan Bukittinggi menuju Halaban, daerah perkebunan teh, 15 Km di selatan kota Payakumbuh. Hasil pertemuan itulah lahirnya PDRI

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) adalah penyelenggara pemerintahan Republik Indonesia sejak 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara yang disebut juga dengan Kabinet Darurat.[1] Sesaat sebelum pemimpin Indonesia saat itu, Soekarno dan Hatta ditangkap Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, mereka sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara

Semenjak itu mulai lah perjuangan kemedekaan Indonesia secara gerilya. Kalau di Jawa terkenal dengan pimpinannya Panglima Besar Sudirman. Sedangkan di Sumatra Pimpinan PDRI terlibat lansung dalam perjuangan itu.



Perjuangan grilya tentu saja sangat berat dan penuh penderitaan. Namun disamping itu ada juga peristiwa aneh yang terjadi. Sepeti kisah berikut ini yang dikutip dari Langgam.id.

Dalam suatu kejadian Rombongan PDRI sedang menyusuri aliran Batang Hari ke hulu dari Sungai Dareh, rombongan kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) sampai di Abai Sangir pada 7 Januari 1949. Hari itu, tepat 72 tahun yang lalu dari hari ini, Kamis (7/1/2021).

Berbeda dengan gerilya sebelumnya dari Halaban ke Bangkinang dan selanjutnya ke Sungai Dareh, perjalanan kali ini punya tantangan berbeda. Sejumlah buku mencatat, salah satu rombongan PDRI diikuti seekor harimau Sumatra dalam perjalanan dari Sungai Dareh (kini wilayah Kabupaten Dharmasraya) ke Abai Sangir (kini wilayah Solok Selatan) tersebut.

Sejarawan Mestika Zed dalam Buku “Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia” (1997) menulis, perjalanan menempuh hutan belantara rombongan yang dipimpin Wakil Ketua PDRI Teuku Mohammad Hasan, terasa mencekam.

“Suasana ketakutan juga muncul dari kejadian-kejadian aneh, salah satu diantaranya, selama perjalanan, anggota rombongan PDRI selalu dikuti oleh harimau,” tulis Mestika.

Ajip Rosidi dalam Biografi “Sjafruddin Prawirangegara: Lebih Takut kepada Allah SWT” (1986) menulis, selama perjalanan rombongan Mr. Teuku M. Hasan yang melalui jalur darat diikuti oleh seekor harimau dari jarak kira – kira 20 meter saja. “Harimau itu bertingkah ganjil: dia berjalan kalau rombongan berjalan, tetapi berhenti kalau rombongan berhenti,” tulisnya.

Karena tak menggangu, tulis Ajip, sejumlah anggota rombongan menyimpulkan, harimau itu ingin mengawal dan menjaga keselamatan para pejuang kemerdekaan tersebut. “Di antara anggota rombongan ada yang menganggap bahwa harimau itu tidak lain adalah inyiak (datok) yang mengawal anggota rombongan demi keselamatan mereka dalam perjalanan. Kesimpulan demikian menimbulkan rasa tenteram di hati para anggota rombongan,” kata Mestika.



Medan yang ditempuh oleh rombongan Hasan, menurutnya, juga berat. Para pejuang tersebut menghindari jalan kampung yang terbuka, karena khawatir kembali ditembaki “cocor merah” Belanda seperti dalam perjalanan sebelumnya.



Lebih dua pekan sebelumnya, Bukittinggi, Sumatra Barat dibom pesawat-pesawat Belanda dalam Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Hal yang membuat para tokoh tersebut mendirikan PDRI dan mundur ke Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, pada 21 Desember.

Peristiwa pengawalan oleh harimau ini menurut Edison Datuak Pucuak, salah satu guru Silek (Silat) Pangean Sungai Dareh dalam seminar “Dharmasraya di Lintasan PDRI” yang digelar Pemkab Dharmasraya pada Kamis (2/1/2020) menyebut, fenomena harimau yang mengawal rombongan pejuang, merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat.

Menurutnya, jalur yang dilalui rombongan PDRI tersebut memang lintasan harimau Sumatra. Bila berniat baik, menurutnya, harimau tak akan mengganggu, malah akan membantu menunjukkan jalan bila tersesat. Ia percaya, rombongan PDRI kala itu, dibantu oleh para tetua silek Pangean.

Catatan :

1.    Sumber tulisan https://langgam.id/kisah-harimau-kawal-gerilya-pdri-dari-sungai-dareh-ke-abai-sangir/

2.     Tulisan juga dilengkapi  dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_Darurat_Republik_Indonesia

3.     Gambar diambil dari google.