Rabu, 08 Juli 2020

Detik-Detik Bung Karno dan Bung Hatta Beserta Beberapa Pemimpin Republik lainnya Ditawan Belanda Pada Agresi militer ke 2 (Part I)



Pada hari Minggu 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta yang kala itu pusat pemerintahan Republik Indonesia. Belanda dengan Panglima Perangnya Jenderal Spoor memang sudah bertekat untuk melenyapkan Republik Indonesia yang diprolamirkan 4 tahun sebelumnya. Dan Belanda sukses dalam serangannya. Pemerintah Republik Indonesia dalam sidaing kabinetnya memutuskan untuk menyerah sesuatu yang sangat tidak disetujui oleh kalangan militer yang bertekat untuk terus mengadakan perlawanan



Berikut ini adalah detik-detik akhir Bung Karno dan  pemimpin lainnya ditawan Belanda? Sekitar pukul 15.15 minggu sorenya Kolone A dan Kalone B pasukan baret hijau KST Belanda dibawah pimpinan  colonel Van Beek telah sampai di depan istana presiden, pusat pemerintahan republic dan juga sekaligus kediaman resmi Bung karno. Saat itu istana dipertahankan Kompi II polisi militer di bawah komando Letnan I Susatio dengan anak buah sekitar seratus orang. Melihat  situasi semakin kritis Letnan II Sukoco Cokroatmojo komandan Peleton II mengusulkan, “Pak tinggalkan saya bersama sebagian anak-anak. Komandan selamatkan Presiden lewat pintu belakang istana …”
Setelah mempelajari situasinya, Susatio setuju kemudian menanyakan Mayor Sugandi ajudan peresiden dan penanggungjawab keamanan presiden. Rupanya Sugandi tidak berani memutuskan dan bersama-sama menghadap presiden.

Di serambi belakang istana, Presiden Sukarno sedang duduk bersama Mentri Luar Negeri Agus Salim, komodor Udara Surya Darma, Sekretaris Negara Ichsan. Suara Tembakan semakin riuh dan sudah mendekati istana. Sementara itu suara pesawat terbang yang terbang rendah membikin suasana bertambah mencekam.

“Ono op Co?” sapa Bung Karno melihat Sukoco menghadap dengan pestol di pinggang kanan dan kelewang panjang di sisi kiri. Sebenarnya tidak tidak dibolehkan siapaun menghadap Bung Karno membawa senjata. Biasanya Mangil meminta senjata diserahkan padanya. Ini mungkin karena keadaan kritis ia tidak melakukannya. Namun pengakuaannya ia sudah bersiap sedia, seandainya ada gerakan yang mencurigakan, letnan Koco lansung ia tembak.

Dengan lantang Letnan Sukoco melapor, “ Situasi semakin kritis, istana sudah hampir dikepung, sedangkan bantuan pasukan tidak mungkin kita harapkan . . .” Kemudian dengan tambah semangat ia melanjutkan kalimatnya, “Bapak sebaiknya menyelamatkan diri ke arah barat, lewat pintu belakang, dikawal Pak Susatio bersma anak-anak. Saya sendiri akan tetap di siani mempertahankan istana.
Bung Karno diam memandang tajam kea rah Sukoco. Sejenak kemudian dia menjawab dengan mengacungkan tangan kanannya ke atas, “ Begini Co, merah putih tidak akan pernah menyerah”. Dengan nada  kalimat berubah datar Bung Karno melanjutkan kalimatnya, “ Tapi kita akan serahkan saja rumah ini,. . . . istana ini”

Sukoco ketika itu  usianya baru 21 tahun (Terakhir dia Mayor Jenderal Purnawirawan ketua Legiun Veteran. “ Air mata saya tanpa sadar meleleh, tapi darah saya justru mendidih mendengar penjelasan Bung Karno. Darah muda saya tentu saja dengan keras menolak. Sudah 4 tahun kita berjuang, kok kemudian malah gampang saja memutuskan untuk menyerah? Ada apa ini?

Waktu itu Sukoco hanya komandan  kompi. Dengan demikian dia belum memperoleh informasi bahwa siding cabinet baru saja memutuskan, Presiden dan seluruh pemimpin public yang masih tinggal di istana akan tetap berada di sana untuk mencoba meneruskan tahap baru perjuangan. Tidak lagi dengan bertempur tetapi akan mencoba sebuah cara lain, jalan diplomasi.
(Bersambung Part II)
Catatan:
1.      Bahan diambil dari  Julius Pour “Doorstoot Naar Djokja” Pertikaian Pemimpin Sipil Militer, Penerbit Kompas Jakarta 2010
2.      Gambar diambil dari Google

Jumat, 03 Juli 2020

Mahmud Marzuki Pejuang Kemerdekaan dari Bangkinang Kampar


Setiap kali kita memasuki kota Bangkinang kabupaten Kampar tidak berapa jauh dari Terminal kota, persis di samping jalan menuju Jeembatan megah menyebrangi sungai Kampar menuju Bangkinang seberang kita melihat ada sebuah gedung dengan tulisan “Balai Pemuda Mahmud Marzuki” Namun ketika seuatu waktu saya bertanya kepada salah seorang anak SMA di Bangkinang tentang siapa itu Mahmud Marzuki dia tidak bisa menjelaskan.
Nah siapakah Mahmud Marzuki? Mahmud Marzuki  yang lahir di Bangkinang, tahun 1911 adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat di zamannya. Ada tiga hal yang membuat Mahmud Marzuki layak disebut sebagai tokoh pejuang kemerdekaan yaitu:

1.    Mengobarkan rasa patriotism dan anti penjajah kepada masyarakat
Mahmud Marzuki, dan beberapa temannya  melalui dakwah dan ceramah ceramahnya menyebar bibit nasional dan anti penjajahan kepada masyarakat luas di daerah Kampar sekarang .  Dengan dakwah Agama mereka  menghimpun rakyat dan menggerakkan mereka  melawan penjajah Jepang. Gerakan yang dia lalukan adalah dengan memboikot beberapa hasil panen padi. Warga diminta untuk tidak menyerahkan seluruh hasil panennya. Usaha yang dilakukan berjalan dengan baik, padi yang diberikan ke Jepang sebagian diisi dengan gabah

2.    Memastikan dan menyampaikan berita kemerdekaan RI

Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Sukarno Hatta pada 17 Agustus 1945,  tidak langsung diketahui masyarakat di daerah, termasuk di Kab Kampar, Riau. Maklum saja komunikasi jauh dari kondisi seperti sekarang ini.
Baru pada 5 September 1945, berita proklamasi tersiar di Air Tiris (Kampar) lewat tempelan pamplet yang ditempelkan orang yang datang dari Bukittinggi. Adanya pamplet itu mendorong Mahmud Marzuki dan Muhamad Amin pergi mengecek atau mencari informasi kebenaran cerita itu. Kedua tokoh masyarakat itu pergi ke Botok, Kepala Kantor Pos dan Telegraf Bangkinang. Rupanya Botok benar telah mendapat berita kemerdekaan tetapi dia tak berani untuk menyebar luaskan karena takut ancaman Jepang.
Pada 6 September 1945, bertepatan Hari Raya Idul Fitri, dilaksanakan salad Id di lapangan tengah sawah Simpang Kubu, Air Tiris saat ini. Marzuki kala itu menyampaikan khotbahnya di hadapan masyarakat.
"Penutup khotbahnya Mahmud Marzuki menyampaikan kepastian kemerdekaan yang telah dibacakan Bung Karno dan Hatta. Rakyat diminta bersedia berkorban mempertahankan kemerdekaan.

3.    Pengibar bendera merah putih pertama di Kampar

Karena sudah yakin Indonesia merdeka, pada Senin 11 September 1945, Mahmud Marzuki mengajak seluruh masyarakat berkumpul di depan Kantor Demang Bangkinang untuk menggelar upacara kemerdekaan. Kabar ini terdengar oleh Jepang, sehingga bala tentaranya dikerahkan di lapangan tersebut.

"Di hadapan  sekitar 2.000 warga Mahmud Marzuki menyampaikan  pidato mengajak agar seluruh rakyat terutama yang hadir bertekad mempertahankan Merah Putih tetap di tiangnya, Kemudian, dua orang temaja datang  menyerahkan bendera merah putih kepadanya.  Dengan beraninya M Marzuki membawa bendera itu di tiang. Saat akan dikibarkan hujan mengguyur deras. Sebagian warga mencari tempat berteduh.
"Selaku pemimpin upacara Mahmud Marzuki tetap di tempat walau hujan deras hingga bendera naik sampai ke puncak tiang.
Belanda dan Jepang kala itu sama-sama berada di tempat. Mereka hanya terdiam menyaksikan peristiwa tersebut tersebut.
Belanda dan Jepang hadir di sana bukan untuk mengganggu pengibaran merah putih, tapi justru merasa heran melihat persatuan penduduk di bawah kepimpinan Marzuki 

Setelah peristiwa pengibaran bendera ini Mahmud Marzuki dan rekan-rekannya sibuk membentuk organisasi pemerintahan sebagai bagian dari wilayah republic Indonesia. Namun stelah itu sering pula terjadi bentrokan antara pemuda pejuang dengan Pasukan Jepang. Suatu kejadian  kelompok pemuda pejuang mencegat bala tentara Jepang yang akan masuk ke kota Bangkinang, dari Pekanbaru. Di tengah jalan, mobil serdadu Jepang dihadang para pemuda. Di saat itu 7 tentara Jepang dibunuh, kecuali Kepala Polisi Jepang di Bangkinang, Yamamoto. Di perbatasan Kampar dengan Sumatera Barat di Rantau Berangin juga ada tiga orang Jepang juga dibunuh

Dengan alasan peristiwa ini Pasukan Jepang menangkap Mahmud Marzuki dan 13 orang lainnya. Dalam penahanan Tokoh-tokoh ini mengalami siksaan yang di luar prikemanusiaan.Mahmud Marzuki ditahan selamaa 21 hari, rekannya M Amin ditahan 51 hari. Selebihnya hanya ditahan beberapa hari saja. Marzuki dan M Amin lama ditahan karena dianggap pentolan penggerak untuk melakukan perlawanan kepada Jepang.
Selama mereka ditahan, rakyat kehilangan pedoman dari pemimpinnya. Setelah mereka dipulangkan, rakyat kembali bersemangat. Dibuat acara penyambutan dengan memotong 200 ekor kambing dan 20 ekor kerbau.


Keluar dari tahanan Jepang, Marzuki masih tetap berdakwah ke sana kemari sembari menggelorakan pengusiran Jepang. Namun kondisi kesehatannya akibat penyiksaan yang dialaminya sudah tidak stabil lagi, akhirnya dia jatuh sakit  dan Pejuang ini  meninggal dunia pada 5 Agustus 1946 di usia 35 tahun.Dia dimakamkan di halaman depan perkarangan sekolah Mu’alimin Muhammadiyah Desa Kumantan, Bangkinang. Dia pergi, sebelum sempat menikmati kemerdekaan bangsa ini. 


 Catatan: Bahan diolah dari berbagai sumber diantaranya:
1.    http://berkasriau.com/2018/08/19/kisah-pejuang-kampar-mahmud-marzuki-meninggal-pasca-disiksa-jepang
2.    https://news.detik.com/berita/d-4172776/mahmud-marzuki-sang-pengibar-merah-putih-di-kampar
3.    https://news.detik.com/berita/d-4172755/mahmud-marzuki-pejuang-dakwah-dari-riau
4.    http://riaupotenza.com/berita/20859/sekilas-tentang-perjuangan-pahlawan-kampar-mahmud-marzuki-bag-1
5.    Gambar diambil dari google

Senin, 15 Juni 2020

DATUK TABANO SENDIRIAN MENGHADAPI KEROYOKAN SERDADU BELANDA


Setiap daerah di Indonesia ada tokoh-tokoh sejarah yang daibanggakan yang kadangkala kisah tentang mereka sudah dibumbui sedemikian rupa. Seperti di Riau, Kepulauan meranti ada si Koyan yang ceritanya sangat melegenda. Kalau di Kampar ditanyakan tokoh legendarisnya, urutan pertamanya pastilah Datuk Tabano. Siapa dia?

Datuk Tabano adalah seorang panglima perang di Kanagarian Lima Koto Kampar. Selama hidupnya, ia dikenal gigih melawan Belanda. Datuk Tabano memimpin rakyat Kampar dalam perang terbuka saat Belanda hendak masuk ke Lima Koto Kampar. Untuk mengantisipasi serangan Belanda itu, bersama rakyat Kampar, ia membangun benteng di atas sebuah bukit bernama Batu Dinding di Sungai Mahat. Sungai Mahat saat itu adalah satu-satunya jalur masuk bagi Belanda untuk bisa merangsek ke Lima Koto Kampar.

Di benteng itu Pasukan datuk tabano membuat jebakan dari kayu balok yang diikat dan ditumpuk diberi tali. Ketika serdadu Belanda datang melewati sungai itu dengan 20 perahu yang berisi 250 serdadu belanda, tali pengikat yang telah disiapkan lalu dilepaskan. Hasilnya, pasukan Belanda tenggelam akibat himpitan kayu-kayu besar yang dijatuhkan dari atas bukit. Sebagian yang masih hidup melarikan diri dan menyampaikan berita ke markas Belanda di Pangkalan Koto Baru.

Tidak terima dengan kekalahan itu, Belanda mempersiapkan serangan baru. Belanda menyerang Lima Koto Kampar dengan kekuatan pasukan seribu personil, melalui jalur darat yakni Pulau Godang dan Kuok. Mula-mula pasukan Belanda ini berhasil menawan Pucuk Adat Limo Koto Kampar Datuk Bandaro Sati dan memaksanya menunjukkan rumah Datuk Tabano. Di bawah tekanan keras Belanda, Datuk Bandaro Sati terpaksa menurut dan meminta Datuk Tabano menyerahkan diri.

Dengan tegas Datuk Tabano menolak, maka terjadilah pertempuran seru yang tidak seimbang antara  Datuk Tabano  yang dikroyok oleh puluhan sedadu Belanda. Perkelahian terjadi di dalam rumah datuk Tabano. Satu per satu tentara Belanda itu berhasil dibunuh Datuk Tabano. Lantai rumahnya pun penuh dengan genangan darah. Datuk Tabano berhasil membunuh 18  orang dari serdadu yang mengeroyoknya. Pada suatu kesempatan  seorang sersan belanda yang bernama Smith mencoba menyerang Datuk Tabano, ketika Smith menyerang Datuk  Tabano melompat mengelak, Smith jatuh tersungkur namun ketika Datuk Tabano balik menyerang melompati Smith, kakinya  juga tergelincir di  tikar yang sudah licin  terkena darah. Dia terjatuh dan dester yang di kepalanya terlepas, namun saat dia terjatuh itu ia masih sempat menyabetkan pedangnya dan menewaskan Smith. Smith ini merupakan serdadu yang ke – 19 yang tewas oleh Datuk Tabano. Seorang perwira belanda yang bernama Stein yang dari tadi berdiri siaga dipintu rumah melihat Datuk Tabano tergelincir, menggunakan kesempatan itu melepaskan tembakan kearah tubuh tabano, peluru senapan Stein yang sengaja telah disiapkan sejak awal menembus tubuh Tabano, kemudian ia menghujamkan sangkurnya ke leher Pahlawan yang heroik ini, dan amebrkhirnya manusia super dari Kampar itupun tewas.

Meskipun hanya seorang diri Datuk Tabano berhasil menewaskan 19 serdadu Belanda yang terdiri atas 10 orang Belanda dan 9 lainnya adalah tentara sewaan. Jenazah Datuk Tabano pun akhirnya  dikebumikan di Muara Uwai sementara serdadu Belanda yang tewas dibawa ke Pangkalan Koto Baru.

Catatan:

1. Sumber tulisan( Sumber : Pratama 88.8 ; http://kumpulanmakalahilmiah.blogspot.com/2011/04/l)
2. Gambar dari google

Jumat, 12 Juni 2020

Mac Arthur dan Jepang


Jenderal seperti manusia yang lain, bisa bermacam-macam. Salah satu dari mereka pernah hidup antara 1880-1964. Namanya Douglas Mac Arthur. Kepadanya Jepang menyerah tahun 1945, setelah perang panjang yang pedih. Tapi kepadanya juga Jepang berutang budi.

Akhir Agustus 1945, Jendera; Mac Arthur mendarat di lapangan Atsugi. Suatu langkah yang menegangkan. Kaisar Hirohito memang telah berseru kepada bangsanya untuk meletakkan senjata. Tapi ancaman belum habis. Sejumlah pemuda militant bergabung dalam Sonno Joi Gigun  menampik untuk takluk. Mereka membakar dua rumah mentri, malah mencoba menyerbu istana. Beberap pilot kamikaze juga dikabarkan untuk merencanakan untuk berperang sampai titik darah terkhir.
Mac Arthur yang angkuh tidak peduli dengan nasehat stafnya. Ia mendarat di Atsugi- tempat latihan pilot kamikaze- dan berniat  membuka markasnya cepat-cepat di Tokyo.

Sementara para perwira bawahannya berdebar-debar mencemaskan situasi keamanan. Mac Arthur dengan tenang naik mobil Lincoln tua yang disediakan pemerintah Jepang. Dari Atsugi ke The New Grand Hotel, Tokyo 25 km jaraknya.
Di hotel ia makan malam dengan stafnya. Ketika di hidangkan steak ia mengunyahnya tanpa curiga- meskipun salah saorang bawahannya menginginkan agar daging panggang itu dicicipi dulu oleh seorang Jepang, kalau-kalau diracun.

Tapi Mac Arthur memang lain. Manager hotel saking terharunya akan sikap tanpa curiga panglima Amerika itu, berpidato mengucapkan terimakasih. Mac Arthur senang. Ia tahu bahwa ia telah memberi syarat kepada bangsa Jepang bahwa pasukan pendudukan AS akan bersikap murah hati.
Di samping itu memang ada pertimbangan yang lebih sederhana, tapi dalam keadaan berantakan oleh perang. Tokyo bukanlah tempat yang mudah untuk mendapatkan steak.. Esoknya sang panglima hanya memperoleh sebutir telur untuk sarapannya- itupun setelah tentara dikerahkan mencari semalam suntuk.

Isyarat murah hati Mac Arthur lain: sebuah instruksi pagi hari itu, bahwa pasukan pendudukan dilarang mengambil makanan setempat. Tapi pasti yang lebih dikenang adalah pidatonya pada upacara penandatatanganan dokumen pernyataan takluk Jepang di kapal perang Missouri.

Hari itu 2 September 1945. Udara panas, menurut catatan perwira Amerika. Delegasi Jepang datang dipimpin oleh menteri luar neggeri Moramu Shigemitsu. Lelaki tua ini berkaki satu. Yang sebelah sudah kena bom teroris di Shanghai. Jalannya bertongkat tertatih-tatih, apalagi waktu naik ke kapal. Para perwira sekutu menyaksikan itu. Menurut catatan reporter yang hadir dengan “ rasa senang yang ganas”

Meskipun demikian, dan meskipun seorang anggota delegasi sekutu yang agak mabuk malah bertingkah kasar kepada delegasi Jepang, peristiwa itu telah dibikin Mac Arthur bukan sebagai pertunjukan kemenangan. Ia muncul tanpa sebuah medalipun di dadanya. Sikap tegaknya sempurna, tapi tangannya agak gemetar, ketika ia membaca pidato yang ia siapkan sendiri: “ Kita berkumpul di sini, para wakil kekuatan-kekuatan utama yang berperang untuk menyimpul suatu persetujuan yang khidmat, yang merupakan jalan menuju perdamaian”
Bagi para penakluk dan pihak yang ditaklukkan harus bangkit kearah suatu kehidupan yang ditujukan  bagi “kemerdekaan, toleransi dan keadilan”

Toshikazu Kase, seorang anggota delegasi Jepang agak kaget mendengar pidato seperti itu. Menurut Kase yang pernah dididik di Amerika itu, Mac Arthur  bisa mendiktekan hukuman yang berat dan menghina kepada bangsa Jepang. Tapi tidak. Dek kapal Missouri pagi itu tiba-tiba berubah menjadi altar perdamaian.


Dalam bahasa jawa ada petuah agar kita menang tanpa ngasorake, atau menang tanpa merendahkan martabat musuh. Memang ada batas juga bagi permusuhan dan kemenangan dalam dunia yang tidak abadi ini.

Catatan:
1.    Tulisan  bersumber dari Gunawan Mohamad, Catatan Pinggir,grafitipers.
2.    Gambar diambil dari google
 

Kamis, 04 Juni 2020

Mengenang Pembantaian Rakyat Banda oleh Belanda tahun 1621

 
Selama menguasai Kepulauan Nusantara, Belanda sering melakukan pembunuhan berskala  besar  terhadap penduduk Nusantara dengan berbagai cara. Ada yang pembantaian secara lansung dan ada pula pembunuhan dengan cara kerja paksa yang mengakibatkan rakyat tewas karena kelelahan dan kelaparan


Sekurangnya selama mengangkangi nusantara  ada empat kali pembunuhan besar-besaran yang dilakukan  Belanda terhadap rakyat Nusantara, yaitu Pembantaian di Pulau Banda, Kerja Paksa membangun Jalan dari Anyer ke Panarukan yang berjarak seribu kilometer dan yang terakhir ketika Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya yaitu pembantaian yang dilakukan Westerling dan pasukannya. Di samping pembunuhan- pembunuhan lainnya ketika memadamkan pemberontakan dan menaklukan suatu daerah.

Berbicara masalah pembantaian di pulau Banda ini pembicaraan tidak bisa luput mengenai sosok Jan Pieterszoon Coen yang bertanggungjawab lansung terhadap pembantaian itu. Ketika itu JP Coen menjabat Gubernur Jenderal. Ia datang ke Banda dari Batavia tanggal 27 Februari 1621 dengan tujuan menciptakan monopoli perdagangan pala. Selain pasukan tentara-tentara VOC, JP Coen membawa tentara VOC yang telah habis masa kontrak, orang-orang mardijkers (orang-orang Portugis di Batavia yang dibebaskan setelah mereka menganut Kristen Protestan seperti orang-orang Belanda), dan musketiers (para relawan). Ia juga membawa orang-orang hukuman dari Pulau Jawa untuk bekerja sebagai pendayung perahu dan tentara bayaran Jepang yang disebut Ronin (samurai yang tidak mempunyai pimpinan lagi).

Operasi penaklukan Banda dimulai 3 Maret 1621. JP Coen dan pasukannya mulai menyerang Banda Besar di pagi hari tanggal 11 Maret 1621. Hanya dalam sehari semalam mereka berhasil menguasai seluruh pulau itu. Desa Selamon – tempat awal Islam masuk ke Banda – dijadikan markas besar mereka di sana. Selain menguasai desa mereka juga menyita balai desa untuk digunakan sebagai kantor Gubernur Banda yang baru yaitu Kapten Martin ‘t Sionck, dan mesjid di sebelah balai untuk penginapan pasukan. Orang Kaya Jareng dari Selamon menolak mesjid digunakan untuk para pasukan Belanda. Ia tidak berkeberatan jika mesjid digunakan oleh Gubernur Sionck. Namun Sionck tidak peduli dengan tanggapan Orang Kaya Jareng tersebut. Ia juga tidak mengizinkan Orang Kaya Jareng dan penduduk desa menggunakan mesjid untuk ibadah yang akan dilaksanakan dua hari kemudian.

Hari-hari tegang dan mencekam, namun belum terjadi insiden berarti. Hingga suatu malam, terdengar suara keras dari dalam masjid. Rupanya, lampu gantung jatuh dengan tiba-tiba. Namun, kegaduhan itu membuat Belanda curiga dan menuduh warga sedang mempersiapkan serangan .

Kericuhan tidak terhindarkan karena VOC segera merespons dengan tindakan keras, bahkan kejam. Warga dibantai tanpa ampun, tidak hanya di Pulau Lontor dan Naira, melainkan di pulau-pulau lainnya. Yang berhasil melarikan diri hanya sekitar 300-an orang saja.
Pasukan VOC beserta para serdadu bayarannya menghancurkan apapun yang mereka temui, termasuk rumah-rumah penduduk dan perahu-perahu milik warga, selain terus membunuhi orang-orang yang tidak sempat kabur. 

JP Coen menangkap para Orang Kaya Banda. Mereka dipaksa mengaku sebagai pemicu kerusuhan. Satu kurungan bambu berbentuk bulat dibangun di luar Benteng Nassau. Delapan Orang Kaya paling berpengaruh digiring masuk ke dalam kurungan. Mereka dituduh bersekongkol untuk membunuh Gubernur Jenderal JP Coen. Enam orang serdadu algojo Jepang kemudian diperintahkan masuk ke dalam kurungan. Dengan pedangnya yang tajam mereka memotong kedelapan Orang Kaya ini menjadi empat bagian. Berikutnya ke-36 Orang Kaya lainnya dipenggal kepala, lalu dipotong-potong badannya. Potongan kepala dan badan ditancapkan pada ujung bambu untuk dipertontonkan kepada masyarakat.

Coen memang bertindak sangat kejam sebagai perwujudan balas dendam. Hampir seluruh penduduk di Kepulauan Banda dimusnahkan dengan sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan Diperkirakan dari 15 ribuan penduduk Kepulauan Banda saat itu, yang tersisa kurang dari 1000 orang saja akibat pembantaian VOC tersebut.

Setelah berhasil  membantai hampir seluruh  penduduknya, Belanda lalu sepenuhnya menguasai Kepulauan Banda yang amat kaya dengan rempah-rempah itu dan mendapatkan keuntungan besar selama berpuluh-puluh tahun kemudian.

Note:
1.    Sumber tulisan - https://tirto.id/pembantaian-orang-orang-banda-czNl dan http://rizanoanders.staff.unja.ac.id/pembantaian-belanda-paling-kejam
2.    Gambar diambil dari google

Sabtu, 09 Mei 2020

Hubertus Van Mook Ingin Menguasai kembali Indonesia Dengan Mengoyak-Ngoyak Wilayah Republik Indonesia Menjadi Puluhan Negara-Negara Kecil


Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Belanda yang dengan mudah diusir oleh Jepang dari Nusantara  pada perang dunia ke-2 melakukan berbagai upaya  untuk menguasai kembali Indonesia yang merupakan sumber kekayaan mereka. Maka mulailah perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam usaha untuk merebut kembali Indonesia, di pihak Belanda ada dua orang tokoh yang memegang peranan penting. Yang pertama adalah Jenderal Simon Spoor yang sangat yakin Republik Indonesia akan gampang dilenyapkan dengan kekuatan militer. Yang kedua adalah Hubertus Van Mook yang berusaha melemahkan Republik Indonesia dengan cara mencabik-cabik Indonesia menjadi Negara- Negara kecilyang berada dibawah Sri Ratu mereka.

Simoon Spoor sudah merasa berhasil dengan tugasnya ketika Belanda Menyerbu Yogyakarta yang waktu itu  ibukota RI pada agresi ke dua dan menawan Presiden, wakil dan beberapa mentri lainnya. Sedangkan  Hubertus Van  Mook sudah merasa kemenangan ditangan mereka ketika perjanjian Renvile di setujui oleh Republik Indonesia, dan wilayah Republik Indonesia sudah sangat mengecil. Namun sejarah mencatat kemenangan yang sudah di depan mata itu akhirnya lenyap dengan kecerdikan dan kegigihan tokoh-tokoh militer dan sipil Indonesia.
Simon Spoor sudah kita tulis secara panjang lebar di blog ini. Sekarang kita kan membahas siapa Van Mook sebenarnya.

Hubertus van Mook lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 30 Mei 1884. Ayahnya bernama Matheus Adrianus Antonius van Mook, yang meninggalkan Belanda tak lama setelah menikahi Cornelis Rensina Bouwman pada 1893. Di Hindia Belanda, ayahnya  menjadi inspektur/penilik SR di Surabaya. Mereka suami istri datang ke Hindia Bealnda sebagai pengajar.Meskipun ia memang keturunan Belanda yang lahir di tanah Hindia, dia anggap Hindia Timur Belanda -terkhusus Jawa- itu berbeda dengan Belanda. Bahkan dia anggap dirinya sebagai "orang Hindia dan menganggap Jawa sebagai tanah kelahirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar HBS di Soerabaja, van Mook pindah ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan tinggi teknik di Delft. Tahun 1914 sempat masuk dinas ketentaraan sukarela dan melanjutkan studi tentang Indonesia di Universitas Leiden pada tahun 1916 dan lulus tahun 1918. Setelah itu, ia kembali ke Hindia Belanda dan ditugaskan menjadi inspektur mengurusi distribusi pangan di Semarang. Tahun 1921 menjadi penasihat urusan pertanahan di Yogyakarta. Tahun 1927 menjadi asisten residen urusan kepolisian di Batavia. Dalam tahun 1930-an dia menjadi ketua departemen urusan ekonomi

Tanggal 20 November 1941 van Mook diangkat menjadi Menteri Urusan Tanah Jajahan (Minister of Colonies). Awal 1942 menjelang masuknya Jepang ke Indonesia, van Mook menjadi Wakil Gubernur-Jenderal dan berusaha mendapatkan dukungan militer dari Amerika Serikat untuk pengadaan persenjataan melawan Jepang, namun bantuan yang dinanti-nantikan terlambat datang, meskipun telah dibayar tunai. Saat Jepang mendarat di Jawa, van Mook mengungsi ke Australia, sementara Gubernur-Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer tetap berada di Indonesia. Tjarda van Starkenborgh ditawan Jepang, kemudian dibawa ke Manchuria dan baru dilepaskan pada bulan September 1945.


Pada tahun-tahun akhir Perang Pasifik van Mook yang berada di Australia tetap menyandang pangkat Wakil Gubernur Jenderal meskipun secara de facto bertindak selaku Gubernur Jenderal karena Tjarda van Starkenborgh Stachouwer ditawan Jepang dan setelah dibebaskan diangkat menjadi Duta Besar Belanda di Prancis. Pangkat van Mook tetap Wakil Gubernur Jenderal tetapi secara de facto dia melakukan tugas sebagai Gubernur Jenderal. Dia menjabat dari tanggal 14 September 1944 sampai 1 November 1948.

Untuk menguasai Indonesia kembali setelah Jepang kalah pada perang dunia ke –dua Van Mook berjuang melalui diplomasi dengan cara memecah belah Indonesia menjadi Negara-negara kecil yang berada dibawah naungan kerajaan Belanda. Strategynya ini berhasil secara gemilang dengan disetujuinya oleh delegasi Republik Indonesia Perjanjian Renvile yang mempersempit wilayah Republik Indonesia.

Pada peta ini kita melihat warna merah Republik Indonesia itu hanya Sumatra dan sebagian pulau Jawa, yaitu Banten dan Jawa tengah. Selebihnya yang tidak bewarna merah adalah kekuasaan belanda dengan bentuk Negara-negara kecil. Perjanjian yang sangat merugikan.
Namun itulah Belanda, orang orang seperti Van Mook dan rakyat Belanda pada umumnya masih mengira orang Indonesia itu bodoh-bodoh dan gampang diakali. Dengan perjanjian Renvile ini meskipun wilayah  Negara Republik Indonesia telah sangat mengecil namun entah disadari atau tidak oleh  Belanda, Belanda telah mengakui Indonesia sebagai suatu Negara merdeka. Kesempatan ini digunakan oleh para pemimpin kita untuk mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB. Dan diplomat-diplomat kita yang ulung berhasil mempengaruhi Negara-negar di benua Asia dan Afrika termasuk Amerika untuk mengakui Indonesia. Hampir semua Negara Arab memberikan pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Bagaimana dengan wilayah Indonesia yang sudah menjadi wilayah pemerintah Belanda yang terkenal dengan garis Van Mook itu?  Garis Van Mook, juga dikenal dengan Garis Status Quo, adalah perbatasan buatan yang memisahkan wilayah milik Belanda berdasarkan perjanian Renvile.
Mula-mula Indonesia menunjukkan kepatuhannya dengan mengososngkan wilayah kedudukan mereka. Paling terkenal adalah hijrah Pasukan Siliwangi ke daerah Republik Indonesia. Namun tak berapa lama setelah itu meliter Indonesia menyusupkan pasukan-pasukan grilya untuk mengganggu daerah kekuasaan Belanda.Dan ini nantinya menjadi alasan Belanda pula untuk melakukan agresi ke 2 dengan tujuan menuntaskan melenyapkan Negara Republik Indonesia dari bumi Nusantara.

Sepertinya berhasil juga. Namun sekali lagi Belanda keliru. Tak berapa hari kemudia muncul Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra. Dan di Jawa Jenderal Sudirman dengan pasukannya melakukan perlawanan secara grilya yang  merepotkan belanda dan memaksa mereka  untuk kembali berunding. Dan dalam perundingan diplomat-diplomat kita menunjukkan kelasnya dan akhirnya memaksa Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia.



Setelah upaya menguasai Indonesia ini kembali gagal Van Mook  dengan kecewa meninggalkan Indonesia  kemudian bekerja  bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pakar pengembangan kawasan. Sejak 1960 van Mook memilih menetap di L'Illa de Sorga, Prancis sampai akhir hayatnya, tahun 1965.

Catatan:
1.    Bahan diolah dari berbagai sumber antara lain - -https://id.wikipedia.org/wiki/Hubertus_Johannes_van_Mook, https://id.wikipedia.org/wiki/Garis_Van_Mook, https://historia.id/politik/articles/berjudi-di-atas-renville-v5499https://historia.id/politik/articles/berjudi-di-atas-renville-v5499
2.    Gambar diambil dari google