Rabu, 07 Oktober 2020

Mengenal Lebih Dekat Mohammad Yamin Seorang Politikus dan Juga Sastrawan

Dengan minimnya pelajaran sejarah di sekolah, banyak generasi milinial yang sudah tak kenal lagi pahlawan-pahlawan yang berjasa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia  dari penjajah Belanda. Oleh karena itu kita akan mengangkat kisah hidup tokoh-tokoh pejuang yang hampir dilupakan itu. Salah satunya adalah Mohammad Yamin seorang pelitkus, sejarahwan dan juga seorang sastrawan

 Mohammad Yamin dilahirkan di Talawi, Sawahlunto pada 23 Agustus 1903. Ia merupakan putra dari pasangan Usman Baginda Khatib dan Siti Saadah yang masing-masing berasal dari Sawahlunto dan Padang Panjang. Ayahnya memiliki enam belas anak dari lima istri, yang hampir keseluruhannya kelak menjadi intelektual yang berpengaruh. Saudara-saudara Yamin antara lain: Muhammad Yaman, seorang pendidik; Djamaluddin Adinegoro, seorang wartawan terkemuka; dan Ramana Usman, pelopor korps diplomatik Indonesia. Selain itu sepupunya, Mohammad Amir, juga merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.


Yamin mendapatkan pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, kemudian melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Di AMS Yogyakarta, ia mulai mempelajari sejarah purbakala dan berbagai bahasa seperti Yunani, Latin, dan Kaei. Namun setelah tamat, niat untuk melanjutkan pendidikan ke Leiden, Belanda harus diurungnya dikarenakan ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian menjalani kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, yang kelak menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.

 


Mohammad Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya-karya pertamanya ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatra, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920. Karya-karya terawalnya masih terikat kepada bentuk-bentuk bahasa Melayu Klasik.

Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air; yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatra. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.



Himpunan Yamin yang kedua, Tumpah Darahku, muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah, karena pada waktu itulah Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya, Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa, muncul juga pada tahun yang sama.

Dalam puisinya, Yamin banyak menggunakan bentuk soneta yang dipinjamnya dari literatur Belanda. Walaupun Yamin melakukan banyak eksperimen bahasa dalam puisi-puisinya, ia masih lebih menepati norma-norma klasik Bahasa Melayu, berbanding dengan generasi-generasi penulis yang lebih muda. Ia juga menerbitkan banyak drama, esei, novel sejarah, dan puisi. Ia juga menterjemahkan karya-karya William Shakespeare (drama Julius Caesar) dan Rabindranath Tagore.



Karier politik Yamin dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di Jakarta. Ketika itu ia bergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond[3] dan menyusun ikrah Sumpah Pemuda yang dibacakan pada Kongres Pemuda II. Dalam ikrar tersebut, ia menetapkan Bahasa Indonesia, yang berasal dari Bahasa Melayu, sebagai bahasa nasional Indonesia. Melalui organisasi Indonesia Muda, Yamin mendesak supaya Bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat persatuan. Kemudian setelah kemerdekaan, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi serta bahasa utama dalam kesusasteraan Indonesia.

Pada tahun 1932, Yamin memperoleh gelar sarjana hukum. Ia kemudian bekerja dalam bidang hukum di Jakarta hingga tahun 1942. Pada tahun yang sama, Yamin tercatat sebagai anggota Partindo. Setelah Partindo bubar, bersama Adenan Kapau Gani dan Amir Sjarifoeddin, ia mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Tahun 1939, ia terpilih sebagai anggota Volksraad.



Semasa pendudukan Jepang (1942-1945), Yamin bertugas pada Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 1945, ia terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam sidang BPUPKI, Yamin banyak memainkan peran. Ia berpendapat agar hak asasi manusia dimasukkan ke dalam konstitusi negara.[4] Ia juga mengusulkan agar wilayah Indonesia pasca-kemerdekaan, mencakup Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta semua wilayah Hindia Belanda. Soekarno yang juga merupakan anggota BPUPKI menyokong ide Yamin tersebut. Setelah kemerdekaan, Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama, dan Yamin dilantik untuk jabatan-jabatan yang penting dalam pemerintahannya.



Setelah kemerdekaan, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Yamin antara lain anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), Ketua Dewan Perancangan Nasional; dibantu 3 Wakil Ketua, yaitu Ukar Bratakusumah, Soekardi & Sakirman melalui UU No. 80 tahun 1958[5] (1958–1963), Menteri Sosial dan Kebudayaan (1959–1960), Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962) dan Menteri Penerangan (1962–1963).



Pada saat menjabat sebagai Menteri Kehakiman, Yamin membebaskan tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Tanpa grasi dan remisi, ia mengeluarkan 950 orang tahanan yang dicap komunis atau sosialis. Atas kebijakannya itu, ia dikritik oleh banyak anggota DPR. Namun Yamin berani bertanggung jawab atas tindakannya tersebut. Kemudian disaat menjabat Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan, Yamin banyak mendorong pendirian univesitas-universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Di antara perguruan tinggi yang ia dirikan adalah Universitas Andalas di Padang, Sumatra Barat.



Karya-karaya 

·         Tanah Air (puisi), 1922

·         Indonesia, Tumpah Darahku, 1928

·         Kalau Dewa Tara Sudah Berkata (drama), 1932

·         Ken Arok dan Ken Dedes (drama), 1934

·         Sedjarah Peperangan Dipanegara, 1945

·         Tan Malaka, 1945

·         Gadjah Mada (novel), 1948

·         Sapta Dharma, 1950

·         Revolusi Amerika, 1951

·         Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, 1951

·         Bumi Siliwangi (Soneta), 1954

·         Kebudayaan Asia-Afrika, 1955

·         Konstitusi Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi, 1956

·         6000 Tahun Sang Merah Putih, 1958

·         Naskah Persiapan Undang-undang Dasar, 1960, 3 jilid

Ketatanegaraan Madjapahit, 

Catatan:

1. Naskah dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Yamin

2. Gambar diambil dari google

Jumat, 18 September 2020

Akhir Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

 Lanjutan dari  “Tragedy Pada Suatu Malam Dalam Perjuangan Tuanku Imam Bonjol Melawan Belanda
 

Pada waktu akan berangkat meninggalkan Bonjol, jatuh berderai air mata Tuanku Imam
Keadaan nya ketika itu  diibaratkan sebagai sampan  yang menempuh ombak besar  tapi pengayuh tidak ada. Walaupun demikian  dalam keadaan serba kritis itu, Tuanku Imam berpesan  kepada Datuk Sajati, Datuk Gamuk dan Bagindo Suman agar nanti mereka  membayar utang berupa emas kepada datuk Bandaro, yaitu utang untuk  membiayai  pengiriman kemenakannya ke Mekah dahulu


Demikian Juga ia berpesan kepada Datuk Batuah agar anaknya, Sutan Caniago dipelihara dengan  baik   dirumah bakonya di Kampung Koto.  Hal demikian diutarakan Tuanku Imam, karena ia berpendapat, bahwa perang tidak akan berakhir sebelum Belanda dapat menangkapnya, dan ia akan berkelana ke mana saja sampai ajalnya datang dalam berjuang menentang Belanda. 


Beberapa kali Tuanku Imam mengalami kegoncangan jiwa dan beberapa peristiwa lama muncul ke permukaan, namun pada akhirnya dapat diatasinya dengan pikiran yang rasional. Setelah Belanda menyerang Koto Merapak, Tuanku Imam dan rombongannya beserta 12 orang Jawa, mengungsi ke Ladang Rimbo. Tuanku Imam berkata, inilah kampung yang akan ganti kampung Bonjol sekiranya penghulu sepakat dengan hulubalang, inilah kampung yang aman tenteram. Namun beberapa hari kemudian datanglah seorang Jawa melaporkan kepada Tuanku Imam yang menyatakan bahwa Ladang Rimbo diserang Belanda dan banyak wanita yang diangkutnya ke Bonjol. Tuanku  Sinai dipenggal dan kepalanya dibawa ke Bonjol.


 Mendengar laporan ini  Tuanku Imam memerintahkan Sutan Caniago mempersiapkan senjatanya  tetapi Tuanku Haji Tuo menyabarkan hati Tuanku Imam  sambil menunggu berita Haji Muhammat  Amin. Mereka memperkuat  Pertahananan dan memasang perangkap batu.  Selama sebulan  mereka keadaan siaga, Kondisi serba kekurangan sehingga mereka makan talas saja. 

 


Sementara itu datang Bagindo Saidi dan Bagindo Tan Labih kepadanTuanku Imam untuk  menyampai kan surat  Residen Francis,  yang isinya  meminta Tuanku Imam Menyerah kepada wakilnya  Kapten Stenmetz. Setelah bermusyawarah  dengan seluruh anggota keluarga Tuanku Imam sepakat  mengirim utusan yang terdiri dari dua anaknya Sutan Caniago dan Sutan Saidi, dan sementara yang  sekaligus dubalang Tuanku Imam, Bagindo Tan Labih. Mereka ditugaskan berunding dengan Steinmetz di Bukittinggi. 

 


 Akhirnya, Tuanku Imam bersedia mengbentikan perlawanan, dan dalam perundingan di Palupuh, Tuanku Imam diperdayakan Belanda  dan ditangkap yang kemudian diperlakukan sebagai tawanan perang dibawa ke Bukitinggi dan ditandu sampai di Padang. Pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk mengasingkannya ke Cianjur. Setahun kemudian dipindahkan ke Ambon dan terakhir ke Lotak, distrik Kakaskasen, keresidenan Manado,  Daerah Minahasa pada waktu itu merupakan wilayah Awsten Residen Manado yang terbagi atas tiga distrik. Lotak meriipakan ibu negeri distrik Kakaskassen yang ber-penduduk 5.000 jiwa, yang terletak 9 km dari Manado ke arah selatan.

Tuanku Imam dibuang bersama seorang anaknya Sutan Saidi, kemenakannya AbdulWahab gelar Haji Muhammad Amin dan seorang semenda Datuk Bagindo Tan Labih serta seorang Jawa yang setia bernama Galito. Pada waktu sampai di Manado mereka ditempatkan di Koka, suatu desa yang terletak 3 km  dari Manado. Dengan demikian berakhir lah perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Dan Perang Padri masih berlanjut dengan Panglimanya Perangnya Tuanku Tambusai.

Catatan :

1.      Sumber tulisan: Sjafnir ABoe Nain, Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minang Kabau, 1784-1832, Penerbit  Esa Padang  hal. 80-81

2.       Beberapa gambar diambil dari google

 


Jumat, 07 Agustus 2020

Tragedy Pada Suatu Malam Dalam Perjuangan Tuanku Imam Bonjol Melawan Belanda

 

 Jika disimak dengan saksama perjuangan menguusir penjajah lebih banyak duka dari pada sukanya. Namun para pejuang yang sudah bertekat untuk mengusir penjajah tidak lagi memikirkan penderitaan yang mereka alami. Tujuan mereka jelas mengusir penjajah dengan taruhan nyawa. Silih nerganti penderitaan menimpa mereka namun mereka tetap melanjutkan perjuangan.

 

Demikian juga Tuanku Imam Bonjol dalam usahanya mengusir penjajah pernah mengalami suatu  tragedy yang hampir merenggut nyawanya ini terjadi pada suatu malam. Pada saat itu Pasukan Bonjol sedang berhadapan dengan pasukan Belanda yang berkekuatan 2109 serdadu sedang berusaha untuk merebut Bonjo. Jarak antara pasukan Belanda dan pasukan Bonjol hanya 17,5 meter, berlasnung selama tiga bulan siang dan malam. Setiap hari Belanda hanya bisa maju sekitar  setengah sampai dua setengah meter. Pasukan Bonjol cukup kuat menahan gerak maju pasukan Belanda yang dipimpin oleh  2 orang veteran perang Napeleon yaitu  jenderak Cochius dan Jenderal Michiels.

Namun sayang Pada suatu malam, tatkala penduduk Bonjol tertidur karena letih,  pasukan Belanda dapat memasuki Bonjol melalui parit benteng yang runtuh dan menikam istri Tuanku Imam dan anaknya, Muhammaa Rail. Mendengar pekik mereka, Tuanku Imam mengambil pedangnya dan diikuti anaknya, Umar Ali. Umar Ali kena tembakan peluru dan langsung rebah. Tuanku Imam mengamuk dengan pedangnya . Beberapa orang serdadu Belandan bergelimpangan ditebas pendangnya sebelum ia   rebah kena tusuk sangkur Belanda, tetapi kemudian ia berdiri menghadapi. musuhnya dan mengibaskan pedangnya. Akhimya, Tanku  lmam tiada   sadarkan diri karena kena tusuk: sanglrur 13 Liang. Pasukan belanda melarian diri sambil membawa delapan orang korban pedang  Tuanku  Imam. 



Dua hari kemudian  terjadi peperangan mati-matian antara penduduk Bonjol dan pasukan belanda . Tuanku Imam masih dalam keadaan menderita sakit. Kemudian menyingkir bersama anak dan istrinya serta pengikutnya  ke Koto Marapak, kemudian ke Ladang Rimbo dan terkhir ke Bukit Gadang.


Bersambung ke” Akhir Perjuangan Tuanku Imam Bonjol”

Catatan :
1.    Sumber tulisan: Sjafnir ABoe Nain, Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minang Kabau, 1784-1832, Penerbit  Esa Padang  hal. 80-81
2.    Gambar dari google