Minggu, 08 November 2020

Mengenal Lebih Dekat Sheik Hassan Al-Banna dan Dukungannya Pada Kemerdekaan Republik Indonesia

Pada Perundingan Renvile Belanda Mengakui Republik Indonesia dengan wilayah hanya Sumatra, Jawa dan Madura. Meskipun perjanjian ini sangat merugikan pihak Indonesia, tetapi ini dimanfaatkan oleh para pemimpin kita untuk meminta pengakuan dunia Internasional untuk mengakui  Indonesia sebagai Negara yang berdaulat. Negara pertama yang memberi pengakuan adalah Mesir. Kemudian disusul oleh Negara-negara Arab lain.Sosok yang memegang peranan penting dari Negara-negara tersebut adalah Sheik Hassan Al-Banna


Sheikh Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna atau lebih dikenal sebagai Sheikh Hassan al-Banna (14 Oktober 1906 – 12 Februari 1949, umur 42 tahun), adalah cendekiawan Muslim dari Mesir pendiri Ikhwanul Muslimin, salah satu organisasi Islam terbesar dan berpengaruh pada Abad 20.

 Ketika Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya, tanpa lelah ia terus menyatakan dukungannya secara terus-menerus terhadap kemerdekaan Indonesia.

Dukungan tersebut ia salurkan melaui beberapa tulisan, berbagai tabligh akbar, dan demonstrasi yang terus digelar.

Kuatnya dukungan rajyat Mesir kepada kemerdekaan Indonesia, membuat pemerintah Mesir menyatakan kedaulatan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. Dengan begitu, Mesir adalah negara pertama yang mendukung proklamasi dan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Setelah itu menyusul Suriah, Irak, Libanon, Yaman, Saudi Arabia, dan Afghanistan yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Selain negara-negara tersebut, negara-negara di Liga Arab lainnya juga mengakui kemerdekaan Indonesia.

Melihat fenomena itu, majalah Time pada 25 Desember 1946 melakukan propaganda dengan menakut-nakuti barat dengan kebangkitan nasionalis Islam di Asia dan di dunia Arab.

Kebangkitan Islam di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia ini, membuat inspirasi negara-negara di Arab dan Muslim lainnya, terutama yang belum merdeka, untuk juga membebaskan diri dari penjajahan oleh negara-negara Eropa.

Selain itu ia juga dikenal akan cara berdakwahnya yang sangat tidak biasa. Ia terkenal sangat tawadlu dikarenakan ia sering berdakwah di warung-warung kopi tempat oarang-orang yang berpengetahuan rendah berkumpul untuk minum-minum kopi sehabis lelah bekerja seharian. Dan ternyata cara tersebut memang lebih efektif dilakukan dalam berdakwah.


Hassan al-Banna yang lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyya, Mesir (utara-barat dari Kairo). adalah seorang guru dan seorang reformis Mesir sosial dan politik Islam, yang terkenal karena mendirikan Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis. Kepemimpinan Al-Banna adalah penting bagi pertumbuhan persaudaraan selama tahun 1930-an dan 1940-an. Ketika Hassan al-Banna berusia dua belas tahun, ia mulai terbiasa mendislipinkan kegiatannya menjadi empat; siang hari di pergunakanya untuk menuntut ilmu di sekolah, kemudian belajar membuat dan membetulkan jam dengan orang tua nya hingga sore, waktu sore hingga menjelang tidur ia gunakan untu mengulang kembali pelajaran sekolah.sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan al-qur'an ia lakukan seusai salat shubuh. Jadi tidak mengherankan bila Hassan Al-Banna mencetak prestasi-prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun, Hassan Al-Banna telah menghafal seluruh Al-Qur'an. Hassan Al-Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik dan nomor lima terbaik di seluruh mesir. Pada usia 16 tahun ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. Demikianlah sederet prestasi Hassan kecil. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna, adalah seorang imam lokal yang dihormati dan guru masjid dari ritus Hanbali. Ia belajar di Al-Azhar University (Lia 24, 1998).



 Dia menulis dan berkolaborasi pada buku-buku tentang tradisi Islam, dan juga memiliki toko di mana ia memperbaiki jam tangan dan menjual gramofon. Meskipun Syaikh Ahmad Al Banna dan istrinya memiliki beberapa properti, mereka tidak kaya dan harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, terlebih setelah mereka pindah ke Kairo pada tahun 1924. Seperti kebanyakan orang lainnya, mereka menemukan bahwa belajar Islam dan kesalehan tidak lagi sangat dihargai di ibu kota (akibat paham sekuler yang begitu kuat saat itu, yang dibawa oleh kolonial inggris untuk merobohkan semangat kaum muslimin), dan bahwa keahlian tidak bisa bersaing dengan industri berskala besar.



Berdirinya organisasi Ikhwanul Muslimin bertepatan dengan tanggal 20/maret/1928. Bersama keenam temannya, Hassan Al-Banna mendirikan organisasi ini (Ikhwanul Muslimin) di kota Ismailiyah.

Pertumbuhan masyarakat terutama diucapkan setelah Al-Banna dipindahkan kantor pusatnya ke Kairo pada tahun 1932. Faktor paling penting yang membuat ekspansi ini dramatis mungkin adalah kepemimpinan organisasi dan ideologis yang disediakan oleh Al-Banna. Dalam Ismailia, di samping kelas hari, dia melakukan niatnya memberi kuliah malam kepada orang tua muridnya. Dia juga berkhotbah di masjid, dan bahkan di warung kopi. Pada awalnya, beberapa pandangannya tentang poin yang relatif kecil dari praktik Islam menyebabkan perbedaan pendapat yang kuat dengan elit agama setempat, dan ia mengadopsi kebijakan menghindari kontroversi agama. Dia terkejut oleh banyak tanda-tanda mencolok dominasi militer dan ekonomi asing di Isma'iliyya: kamp-kamp militer Inggris, bidang pelayanan umum yang dimiliki oleh kepentingan asing, dan tempat tinggal mewah dari karyawan asing dari Terusan Suez Perusahaan, sebelah jorok tempat tinggal dari pekerja Mesir.

Dia berusaha untuk membawa perubahan, dia berharap untuk melalui lembaga-gedung, aktivisme tanpa henti di tingkat akar rumput, dan bergantung pada komunikasi massa.Dia melanjutkan untuk membangun sebuah gerakan massa yang kompleks yang menampilkan struktur pemerintahan canggih; bagian yang bertanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai masyarakat di kalangan petani, buruh, dan profesional; unit dipercayakan dengan fungsi-fungsi kunci, termasuk propagasi pesan, penghubung dengan dunia Islam, dan tekan dan terjemahan, dan komite khusus untuk urusan keuangan dan hukum.



Dalam penahan ini organisasi ke dalam masyarakat Mesir, Al-Banna mengandalkan jaringan sosial yang sudah ada (ikhanul muslimin), khususnya yang dibangun di sekitar masjid, asosiasi kesejahteraan Islam, dan kelompok-kelompok lingkungan. Tenun ini ikatan tradisional menjadi struktur khas modern pada akar kesuksesannya. Langsung terpasang bagi persaudaraan, dan makan ekspansi, dilakukan berbagai usaha, klinik, dan sekolah. Selain itu, anggota yang berafiliasi dengan gerakan melalui serangkaian sel, usar revealingly disebut families tunggal: usrah. 


Materi, dukungan sosial dan psikologis yang diberikan instrumental sehingga kemampuan gerakan untuk menghasilkan loyalitas yang sangat besar di antara para anggotanya dan untuk menarik anggota baru. Layanan dan struktur organisasi masyarakat sekitar yang dibangun tersebut dimaksudkan untuk memungkinkan individu untuk berintegrasi ke dalam pengaturan jelas Islam, prinsip-prinsip sendiri dibentuk oleh masyarakat.



Berakar dalam Islam, pesan Al-Banna ditangani masalah termasuk kolonialisme, kesehatan masyarakat, kebijakan pendidikan, manajemen sumber daya alam, Marxisme, kesenjangan sosial, nasionalisme Arab, kelemahan dunia Islam di kancah internasional, dan konflik yang berkembang di Palestina. Dengan menekankan keprihatinan yang menarik berbagai konstituen, Al-Banna mampu merekrut dari antara bagian-lintas masyarakat Mesir - meskipun pegawai negeri modern-berpendidikan, karyawan kantor, dan profesional tetap dominan di kalangan aktivis organisasi dan pengambil keputusan. Al-Banna juga aktif dalam menentang imperialisme Inggris di Mesir. Selama Perang Dunia II, ia sempat ditangkap oleh pemerintah pro-Inggris, yang melihatnya sebagai subversif.

Antara 1948 dan 1949, tidak lama setelah masyarakat mengirim relawan untuk bertempur dalam perang di Palestina, konflik antara monarki dan masyarakat mencapai puncaknya. Prihatin dengan meningkatnya ketegasan dan popularitas persaudaraan, serta dengan desas-desus bahwa itu merencanakan kudeta, Perdana Menteri Mahmoud sebuah-Nukrashi Pasha membubarkan itu pada bulan Desember 1948. Aktivis organisasi yang ditangkap dan puluhan anggotanya yang dikirim ke penjara. Kurang dari tiga minggu kemudian, perdana menteri dibunuh oleh seorang anggota persaudaraan, Abdul Majid Hasan Ahmad.

Setelah pembunuhan itu, Al-Banna segera mengeluarkan pernyataan mengutuk pembunuhan itu, yang menyatakan teror yang bukan cara yang bisa diterima dalam Islam. Hal ini pada gilirannya mendorong pembunuhan Al-Banna. Pada tanggal 12 Februari 1949 di Kairo, Al-Banna di kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin dengan saudaranya iparnya Abdul Karim Mansur untuk bernegosiasi dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah. Menteri Zaki Ali Basha tidak pernah tiba. 5 jam malam Al-Banna dan saudaranya iparnya memutuskan untuk pergi. Pembunuhan itu terjadi ketika Al-Banna dan saudaranya sedang menunggu taksi.

Saat mereka berdiri menunggu taksi, mereka ditembak oleh dua orang. Al-Banna terkena tujuh tembakan. Dia dibawa ke rumah sakit dan mereka telah menerima perintah dari monarki untuk tidak memberinya perawatan di mana ia meninggal dalam kematian lambat dari luka-luka, Hassan Al-Banna menyadari bahwa mereka telah diperintahkan untuk tidak memperlakukan dia dan dia membuat 3 doa terhadap Monarki. Hassan Al-Banna wafat pada tanggal 12 Februari 1949.


Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Untuk membantu menguduskan tatanan Islam, al-Banna menyerukan melarang semua pengaruh Barat dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian dari masjid. Dia juga menginginkan larangan partai politik dan lembaga demokrasi lainnya dari Syura (Islam-dewan) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memiliki belajar agama sebagai pendidikan utama.

 

Catatan:

1.     Sumber tulisan https://indocropcircles.wordpress.com/2017/11/07/orang-orang-asing-yang-bantu-perjuangan-kemerdekaan-indonesia/ dan https://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Banna

2.     Gambar diambil dari google

 

 

Jumat, 30 Oktober 2020

Sukarno Menembus Hutan Bukit Barisan

 Ketika Belanda takluk kepada Jepang pada perang dunia ke 2, Sukarno sedang dalam pembuangannya di Bengkulu. Ketika Indonesia sudah di kuasai Jepang Belanda takut kalau sang tokoh akan dimanfaatkan Pemerintah Jepang. Oleh karena itu Belanda bermaksud mengunsikannya ke suatu daerah kemungkinan Australia tapi yang pertama di bawa ke Padang terlebih dahulu.  Namun karena kondisi pada saat itu maka perjalanan yang ditempuh Sukarno dan keluarga bukanlah perjalanan yang ringan untuk sampai ke Padang



Setelah memberitahu Inggit Garnasih istrinya, Sukarno berkeliling kota Padang untuk mencari Woworuntu. Kepada rekannya itu Sukarno hendak mencari bantuan tempat tinggal. Meski tak mudah, Sukarno akhirnya menemukan tempat tinggal Woworuntu dan segera mengetuk pintu rumahnya.



Tuan rumah kaget begitu mendapati tamunya adalah Ir. Sukarno, kawan yang saat itu menjadi tokoh perjuangan kemerdekaan paling populer. “Dia memelukku. ‘Sukarno, saudaraku’,” kata Woworuntu berteriak sambil berlinang air mata saat menyambut tamunya, dikutip dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.



Pertemuan dua kawan yang lama tak jumpa itu begitu hangat. Tanpa disangka Sukarno, Woworuntu menawarkan apa yang diinginkan Sukarno. “Bawalah keluarga Bung Karno ke sini...bawalah ke sini dan anggaplah ini rumah Bung Karno sendiri,” kata Woworuntu yang berharap akan mendapat teman di rumahnya karena anak-istrinya telah dia ungsikan akibat suasana kota tak kondusif menyusul kedatangan tentara Jepang. Keluarga Sukarno pun tinggal di rumah Woworuntu dan menempati kamar Woworuntu. Tuan rumah sendiri pindah ke kamar lain.



480p low geselecteerd als afspeelkwaliteit720p geselecteerd als afspeelkwaliteit

Pertemuan membahagiakan Sukarno dengan Woworuntu itu menjadi bayaran atas kepedihan Sukarno sekeluarga selama empat hari menjalani perjalanan sulit dari Bengkulu menuju Padang. Pemindahan tempat pembuangan Sukarno dari Bengkulu dilakukan pemerintah Hindia Belanda karena tak ingin tokoh perjuangan paling populer itu bekerjasama dengan Jepang yang sudah mulai masuk ke Sumatera.


Dalam perjalanan itu Sukarno beserta Inggit, Sukarti anak angkatnya, dan Riwu pembantu setianya mesti melakukan perjalanan jauh menembus belantara Bukit Barisan dengan hanya membawa sedikit perbekalan. Mereka dibawa menuju Padang menjelang tengah malam 22 Februari 1942. Hanya empat polisi yang mengiringi perjalanan mereka. Mereka menyisir pantai barat Sumatra lewat Mukomuko. Ada 13 sungai yang mereka seberangi menggunakan rakit atau perahu milik penduduk sebelum mencapai Mukomuko.

Begitu sampai di Mukomuko sore keesokan harinya, mereka amat kelelahan. “Di Desa Mukomuko mereka ditimbangterimakan kepada polisi dari Karesidenan Sumatera Barat,” kata Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang menjadi sahabat Sukarno, dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

Setelah beristirahat di sebuah rumah, perjalanan dilanjutkan pukul tiga dini hari. Perjalanan kali ini lebih berat bukan hanya karena polisi yang mengawal mereka dari Bengkulu telah diganti oleh polisi-polisi kaku dari Mukomuko, namun mobil pengangkut Sukarno sekeluarga telah dibawa kembali oleh polisi Bengkulu. “Maka rombongan Bung Karno berangkat ke arah Padang dengan menggunakan pedati yang ditarik sapi dari Muko-muko lewat Lunang dan Silaut, terus ke Painan,” sambung Hasjim yang mendengar kisahnya dari Ibu Inggit.


Gerobak-sapi itu hanya diperuntukkan mengangkut beras dan logistik selama perjalanan. Hanya Sukarti yang diizinkan naik gerobak itu jika kelelahan. Praktis, semua mesti berjalan kaki menembus belantara untuk mencapai Padang yang berjarak sekira 300 kilometer.


Meski kaget dan awalnya enggan meneruskan perjalanan, Inggit akhirnya terpaksa ikut. Akibat menyusuri hutan lebat dengan vegetasi rapat, kakinya sampai bengkak. Karena itulah ia terkadang menumpang gerobak logistik. Perjalanan berat itu akhirnya berakhir sementara menjelang magrib ketika mereka mencapai sebuah gubuk panggung kosong di tengah persawahan. Di sanalah mereka istirahat untuk menunggu pagi.
“Kalaupun disuruh berjalan terus, tak seorang pun di antara kami yang masih sanggup berjalan. kami terlalu lelah. Dan kaki bengkak-bengkak oleh gigitan serangga. Sukarti tidak memakai topi, badannya terbakar oleh terik matahari,” kata Sukarno.

Meski gubuk kosong itu kondisinya tak bagus, ia seakan surga bagi para anggota rombongan. Sebuah tikar yang ada langsung ditiduri Sukarno. Mereka akhirnya bisa istirahat meski kondisi sekitar yang menyeramkan. “Seekor ular menjalar melalui kaki. Cicak berkeliaran di atas atap. Bunyi binatang buas di malam hari di sekeliling tempat kami membikin badan jadi dingin. Tetangga kami adalah harimau, beruang, kucing hutan, rusa, babi hutan, dan monyet tak terhitung banyaknya,” kenang Sukarno.



Teriakan monyet yang tak henti-henti membuat Sukarti ketakutan ketika bangun tengah malam. Baru setelah ditenangkan oleh sang ayah bahwa mereka dijaga 24 jam full oleh polisi-polisi bersenjata, Sukarti bisa tenang dan kembali tidur.

Setelah bangun dan sholat serta sarapan, sereka kembali melanjutkan perjalanan di saat hari masih gelap. Itu dilakukan agar mereka bisa mencapai jarak sejauh mungkin ketika magrib tiba dan istirahat. Menjelang tengah hari bukan main senangnya mereka ketika mendapati sebuah sungai berair jernih. Tanpa melepas pakain, mereka langsung menceburkan diri ke sungai itu. Mereka lalu istirahat di sebuah gubuk yang mereka temukan tak jauh dari sungai.

Banyaknya jejak harimau yang mereka lihat selama perjalanan tak begitu menakutkan karena langit terang. Namun tidak demikian ketika seekor siamang besar mendekati mereka. “Akan tetapi kami tidak diapa-apakan, hanya jantung kami yang memukul-mukul dada dengan keras,” sambung Sukarno.

Dengan bekal ikan tangkapan dari sungai tadi, mereka lalu menjadikannya lauk. Nasi dan sayur mereka masak dari beras dan sayuran yang dibawa. Mereka pun makan siang. Perjalanan lalu mereka lanjutkan. Namun, di hari ketiga itu mereka semua telah kelelahan. Inggit bahkan sampai makan sambil berdiri akibat lelahnya dan khawatir jika duduk dia tak bisa kembali berdiri. Seorang polisi yang mengawal bahkan putus asa.


“Di samping matahari yang membakar, haus, kehabisan tenaga dan gangguan binatang, para pengiring kami harus pula mengawal kami. Sekalipun kami adalah orang tawanan dan orang yang menawan, kami semua sama merasakan pahit-getirnya perjalanan,” kata Sukarno. Maka sambil berjalan, Sukarno mencoba mengajak ngobrol polisi pengawal untuk menaikkan kembali semangatnya dan memecah kebisuan perjalanan. “Saya berterimakasih kepada saudara-saudara, karena sudah memperlihatkan daerah pedalaman ini kepada saya,” kata Sukarno.

Perkataan Sukarno langsung disambut seorang polisi dengan pertanyaan. Obrolan pun terjadi. Cerita-cerita yang dikeluarkan Sukarno menjadi hiburan bagi para polisi pengawal. Perjalanan kembali bergairah hingga ketika mereka beristirahat di satu tempat untuk menikmati air kelapa yang diambil oleh Riwu dari pohon yang ada.



Perjalanan mereka tak seberat sebelumnya. Di hari keempat, mereka sudah keluar dari hutan dan masuk ke wilayah Mingangkabau. Dengan menumpang bus, mereka lalu mencapai Padang malam itu juga dan diinapkan di sebuah hotel sebelum akhirnya Sukarno sekeluarga menumpang di rumah Woworuntu.

Catatan:

1. Sumber tulisan https://historia.id/histeria/articles/sukarno-menembus-hutan-bukit-barisan-DWqmR/page/1

2. Gambar diambil dari google.

 



Jumat, 23 Oktober 2020

DN Aidid, Sukses Membangkit PKI yang Telah Cerai Berai, Mengatarkan ke Puncak Kejayaan Kemudian Hancur Kembali

PKI, Partai Komunis Indonesia banyak orang yang alergi mendengar nama partai ini karena sudah beberapa kali memberontak dan katanya partai orang-orang yang tidak percaya dengan tuhan. Namun kalau kita menyimak sejarah kita harus jujur betapa partai ini sudah hancur lebur namun bisa bangkit dan Berjaya kembali. Pada zaman penjajahan tahun 1926 mereka berontak dan gagal, pemerintah Belanda menindasnya dengan bengis dan kejam. 


Dalam tenggang tidak sampai 20 tahun, ketika Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, PKI sudah sudah bangkit kembali dari kehancuran. Pada perjuangan kemerdekaan mengusir Belanda seorang tokoh PKI sempat menduduki jabatan tertinggi di Republik ini sebagai perdana mentri, Amir Syarudin. Namun kemudian kembali PKI menemui nasib sialnya, ketika pemerintah RI sedang berjuang melawan Belanda mereka berontak, pemberontakan Madiun. Untuk kedua kalinya mereka dihancur leburkan.





Tamatkah riwayatnya? Tidak. Mereka kembali menyusun kekuatan pada pemilu 1955 mereka berhasil tampil sebagai partai besar di Indonesia penang pemilu nomor 4. Dan sekali lagi partai ini menapak puncak kejayaannya. Banyak tokoh partai yang menjadi pejabat penting dan menjadi orang dekat presiden, presiden Sukarno.

Siapakah tokoh PKI yang berhasil membangun partai yang telah hancur lebur itu. Kali ini sang pemimpin adalah DN Aidid. Seperti di lansir oleh Tirto. Id D.N. Aidit adalah salah satu pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah membawa partai berhaluan kiri ini berjaya di kancah perpolitikan nasional.Di Tanjung Pandan, Belitung, tanggal 30 Juli 1923, Dipa Nusantara Aidit lahir dengan nama Achmad Aidit dari pasangan Abdullah bin Ismail dan Ayu Mailan. Keluarga Aidit, yang datang dari Sumatera Barat di masa lalu, termasuk kalangan terpandang di Belitung kala itu.

 Dua kakek Aidit bergelar haji. Haji Ismail, kakek dari garis ayah, adalah pengusaha yang menuai sukses di bidang perikanan dan kaya-raya. Sedangkan kakek dari jalur ibu, Ki Agus Haji Abdul Rahman, masih keturunan bangsawan dan dikenal sebagai tuan tanah. “Kakek kami dulu mempunyai pekarangan seluas 2.000 meter persegi,” kenang Murad Aidit, adik kandung Achmad, dalam buku Aidit Sang Legenda (2005). Abdullah, ayah Achmad, merupakan tokoh agama, pendiri organisasi Nurul Islam, salah satu pelopor pendidikan Islam di Belitung, juga seorang mantri kehutanan. Bersama gerakan pemuda yang dipimpinnya, Abdullah pernah menentang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Ia juga mendirikan beberapa sekolah untuk masyarakat di bawah naungan Nurul Islam.



Perjalanan waktu membawa Achmad Aidit dari Belitung ke Jakarta. Pada 1940, ia mendirikan perpustakaan “Antara” di Senen. Dalam "Seri Buku Tempo" bertajuk Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara (2010) disebutkan, Achmad mengganti nama menjadi Dipa Nusantara dan disetujui oleh ayahnya. Semasa di Jakarta, Aidit mulai mempelajari paham Marxisme yang saat itu belum termasuk ajaran terlarang di tanah air. Relasi Aidit semakin luas karena perkenalannya dengan tokoh-tokoh terkemuka termasuk Mohammad Yamin, juga Sukarno dan Mohammad Hatta yang nantinya menjadi para pemimpin RI.

 D.N. Aidit menapaki karier politik di asrama mahasiswa Menteng 31 yang identik sebagai markas aktivis pemuda “radikal” kala itu. Ia berproses bersama kaum muda revolusioner seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, Subadio Sastrotomo dan lainnya. Disebutkan pula bahwa Aidit turut terlibat dalam Peristiwa Rengasdengklok menjelang kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Namun, Aidit juga terlibat dalam perlawanan PKI di Madiun tahun 1948.

 Setelah itu, Aidit sempat menghilang -ada yang menyebut ia berada di Vietnam bagian utara- sebelum muncul lagi menjelang Pemilu 1955. Aidit dengan cepat mengambil-alih kendali PKI dari golongan pemimpin tua macam Alimin dan Tan Ling Djie.

PKI meraup banyak suara di Pemilu 1955 bahkan masuk dalam jajaran 4 partai politik terbesar di Indonesia kala itu. PKI yang mengklaim punya anggota hingga 3,5 juta orang kala itu juga menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Cina.

Entah karena sudah merasa kuat atau sudah waktunya   terjadilah peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang menyebabkan kematian beberapa perwira tinggi TNI-AD dan menyudutkan PKI sebagai salah satu unsur utama upaya kudeta. Para pemimpin PKI mulai diburu, termasuk D.N. Aidit.

 Dalam Kronik 65: Catatan Hari per Hari G30S Sebelum Hingga Setelahnya 1963-1971 (2017) yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan diungkapkan, pada 2 Oktober 1965 dini hari, Aidit terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan pesawat Dakota T-443 setelah sebelumnya lolos dari sergapan tentara. Sesaat usai mendarat di Yogyakarta, Aidit langsung menuju Semarang untuk menggelar rapat dengan beberapa pemimpin PKI lainnya. Rapat ini menghasilkan pernyataan bahwa G30S adalah masalah internal AD dan PKI tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan ini.



 Selama beberapa hari kemudian, Aidit berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mencegah perpecahan internal PKI namun gagal. “PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis Peter Kasenda dalam Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).

 Kubu Aidit termasuk kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI dari ancaman pemberangusan lantaran blunder yang terlanjur terjadi. Di sisi lain, ada kubu radikal yang dimotori oleh Utomo Ramelan dan kawan-kawan yang memilih terus melakukan perlawanan. Para pemimpin PKI terus menjadi sasaran buruan, termasuk D.N. Aidit. Sampai akhirnya, dalam suatu operasi militer pada pertengahan November 1965, Aidit tertangkap di Surakarta. Tanggal 22 November 1965, D.N. Aidit seharusnya dibawa ke Semarang, ke markas Kodam Diponegoro. Hanya saja, raganya tidak pernah tiba di Semarang. Di Boyolali, pemimpin PKI ini dieksekusi mati tanpa pernah sempat diadili. Hingga kini, di mana tepatnya kuburan maupun jasad D.N. Aidit belum ditemukan secara pasti


.Dengan peristiwa G30 S PKI ini kembali partai komunis itu dihancur leburkan, Ribuan anggotanya ditangkap dan dibunuh. Malah kali ini pemabasmiannya tidak tanggung-tanggung betul-betul dibasmi sampai ke akar-akarnya. Harapan bangkit kembali rasanya sangat tipis. Di samping situasi global bangkrutnya komunis di mana-mana. Namun di tanah air sudah mulai timbul kekahawatiran sebagian orang bahwa partai komunis sudah menunjukkan gejala sudah mulai bangkit kembali.

Catatan:

1.     Sumber tulisan https://tirto.id/dn-aidit-membawa-pki-jaya-sekaligus-memungkasi-sejarahnya-f5tK.

2.     Gambar diambil dari google