Kamis, 15 April 2021

Gajah Mada, Sumpah Palapa dan Akhir Kejayaannya

 


Sosok Gajah Mada sebagai Maha Patih Majapahit tidak pernah terlepas dari kisahnya tentang SUMPAH PALAPA yang melegenda. Yaitu sumpah untuk mempersatukan Nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit.



Mengutip jurnal Suluk yang bertajuk "Sejarah Peristiwa Sumpah Palapa Dalam Kitab Pararaton" karya Dwi Susanto dan kawan-kawan dituliskan bahwa Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa setelah pelantikannya. Sumpah Amukti Palapa merupakan manifestasi program politik Gajah Mada terhadap Majapahit agar dapat menyatukan Nusantara, yang berbunyi:



 "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti Palapa."

 Sumpah yang diucapkan saat pelantikan Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit di hadapan Ratu Tribhuana Wijayatunggadewi itu bermakna:


 "Jika telah menyatukan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa."

Wafatnya Gajah Mada

 Karier Gajah Mada ini makin memuncak setelah Tribhuana Wijayatunggadewi turun tahta pada 1351 M, Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk. Bersama dengan Gajah Mada, Hayam Wuruk memimpin Majapahit dan mencapai masa kejayaannya.

Namun kegemilangan Gajah Mada pun meredup ketika, Perang Bubat 1357 M. Pada perang tersebut terjadi pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dengan pasukan Kerajaan Sunda yang akhirnya menimbulkan banyak korban dari Sunda.



Tindakan Gajah Mada ini sangat disayangkan oleh Hayam Wuruk. Saat itu Hayam Wuruk menganugerahi Gajah Mada berupa tanah di daerah Probolingo. Namun, penganugerahan ini pun disinyalir sebagai bentuk anjuran halus dari agar Gajah Mada menjauh dari Majapahit.

Gajah Mada pun mangkat pada 1364 M. Setelah wafatnya, Hayam Wuruk pun melanjutkan kepemimpinannya di Majapahit hingga akhirnya ia meninggal pada 1389 M. Sepeninggal dua orang ini Majapahit di masa-masa selanjutnya mengalami penurunan dan akhirnya runtuh pada 1527 M.

Catatan:

1.      Naskah dikutip lansung dari https://tirto.id/sejarah-hidup-gajah-mada-mahapatih-majapahit-isi-sumpah-palapa-f9ST

2.      Gambar diambil dari google


Rabu, 07 April 2021

Gajah Mada, Siapa Dia?

 

Setiap kali kita membicarakan kerajaan Majapahit salah satu kerjaan terbesar yang pernah ada di Nusantara, Sosok Gajah Mada tidak pernah tertinggal. Ia dengan sumpah Palapanya berhasil mempersatukan Nusantara. Namun generasi sekarang sudah banyak yang melupakan. Karena itulah tulisan ini ditampilkan



Dikutip lansung dari Tirto. Id, Maha patih Gajah Mada bersama Raja Hayam Wuruk membawa Kerajaan Majapahit mengguratkan sejarah emas dalam peradaban Indonesia. Lewat Sumpah Amukti Palapa, Gajah Mada berikrar akan menyatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah naungan Kemaharajaan Majapahit.

Siapa Gajah Mada sebenarnya banyak versi yang menampilkan.  Muhammad Yamin dalam salah satu bukunya menyatakan  bahwa Gajah Mada tidak memiliki ayah dan ibu. Ia terlahir dari dalam buah kelapa, sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) ke dunia. Dengan kata lain, Gajah Mada terlahir atas kehendak dewa-dewa.



Akan tetapi, menurut Serat Pararaton, Gajah Mada merupakan anak dari Gajah Pagon yakni seorang seorang petinggi Kerajaan Majapahit dan pengikut setia Raden Wijaya. Dikisahkan saat itu terjadi peperangan dengan tentara Kadiri dan kemudian Raden Wijaya mengungsi ke Desa Pandakan, Madura. Saat peperangan tersebut, Gajah Pagon terluka dan dititipkan kepada Macan Kuping, Kepala Desa Pandakan. Lalu, Gajah Pagon menikah dengan anak Macan Kuping yang kemudian melahirkan Gajah Mada. Mengutip karya jurnal yang ditulis Yusak Farchan dan Firdaus Syam bahwa sifat dari Gajah Mada serupa dengan ayahnya Gajah Pagon. Dua orang yang memiliki nama Gajah tersebut bersifat pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah dalam menghalau semua  penghalang.

Peran Gajah Mada di Kerajaan Majapahit

Terlepas dari latar belakang Gajah Mada yang masih belum diketahui terang, sosok ini punya peranan penting dalam sejarah Majapahit. Gajah Mada memulai kariernya di Majapahit pada masa pemerintahan Jayanegara. Saat itu ia menjadi bekel atau prajurit di kesatuan khusus bhayangkara. Peran sentralnya dapat dilihat ketika terjadi pemberontakan Ra Kuti pada 1319 M.

Dalam Serat Pararaton dijelaskan bahwa saat Ra Kuti melakukan pemberontakan, yang menjadi bekel jaga di Kerajaan Majapahit adalah Gajah Mada. Atas jasanya menyelamatkan Raja Jayanegara, ia diangkat sebagai patih (1319-1321 M) untuk mendampingi Rani Kahuripan yang saat itu dijabat Tribhuwana Tunggadewi. Dua tahun setelahnya Gajah Mada diangkat menjadi Patih Daha untuk menggantikan Patih Arya Tilam yang telah mangkat.

Peran sentral Gajah Mada di Majapahit semakin menguat, ketika pada 1336 M Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit. Pengangkatan tersebut didasarkan atas jasanya yang berhasil memadamkan pemberontakan di daerah Sadeng pada 1331 M.

Catatan:

1.      Naskah dikutip lansung dari https://tirto.id/sejarah-hidup-gajah-mada-mahapatih-majapahit-isi-sumpah-palapa-f9ST

2.      Gambar diambil dari google


Kamis, 01 April 2021

Syekh Yusuf Tokoh Perlawanan Rakyat Banten Melawan Penjajah Belanda

Penjajahan yang menindas rakyat membuat kegelisahan yang akhirnya menimbulkan pemberontakan yang berdarah melawan penjajah. Dan ini hampir terjadi di seluruh Nusantara yang merasakan pahit getir hidup di bawah penjajah. Kali ini akan kita bicarakan perlawanan rakyat Banten yang dipimpin Syekh Yusuf seorang ulama yang kharismatik ketika itu 



Sebenarnya Syekh Yusuf tidak lahir di Banten ia berasal dari Sulawesi. Ia datang ke Banten setelah hampir 20 tahun bolak balik Mekah- Yaman untuk memperdalam agama. Ia datang ke Banten tahun 1669 karena pemimpin Kesultanan Banten Ketika itu adalah sahabatnya. Di sana dia diangkat jadi penasihat Sultan. Berikut ini beberapa fakta tentang Syekh Yusuf mengenai perlawanannya dengan rakyat Banten melawan penjajah Belanda.

1. Hubungan Kesultanan Banten dan VOC tak harmonis



Saat Syekh Yusuf datang, hubungan Banten dan VOC tengah meruncing. Usai perang 1658-1659 yang diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata 10 Juli 1659, monopoli dagang kompeni kian terasa. Masa status quo malah digunakan kedua pihak untuk mempersenjatai diri lebih banyak, sembari terlibat dalam beberapa kontak senjata akibat penyerangan loji-loji dagang VOC. Perang selanjutnya seolah tinggal menunggu waktu.

Syekh Yusuf bergabung dengan jalan pedang saat perlawanan dikobar mulai tahun 1682. Menurut sejarawan, ada beberapa faktor latar belakang. Pertama, hubungan diplomatik antara kedua kesultanan. Syahril Kila, dalam artikel jurnal "Syekh Yusuf: Pahlawan Nasional Dua Bangsa" (Walasuji, Vol. 9, No. 2, Desember 2018), menjabarkan bahwa Banten dan Gowa-Tallo telah memiliki hubungan dagang jauh sebelum Perang Makassar pecah (1666-1669).

Namun, hubungan tersebut dibayangi oleh sterotype bahwa orang-orang Makassar saat itu banyak menjadi perompak di laut lepas. Barulah pada masa pemerintahan Sultan Ageng (1651-1680) muncul inisiatif mendatangkan banyak pemuka agama untuk menggembleng mental para prajurit. Salah satunya adalah Syekh Yusuf.

2. Alasan lain mengapa Syekh Yusuf melibatkan diri di Perang Banten



Faktor lainnya, Syekh Yusuf memiliki hubungan emosional dengan lingkar dalam Kesultanan Banten. Ketika pertama kali mendarat di Banten (sebelum lanjutkan perjalanan ke Makkah via Aceh) pada 1644, Syekh Yusuf bersahabat dengan Pangeran Surya yang kelak menjadi Sultan Ageng. Selain menjabat mufti penguasa tanah Banten, ia bahkan jadi menantu setelah menikahi putri Sultan Ageng, yaitu Ratu Aminah.

Terakhir, bayang-bayang Perjanjian Bongaya tahun 1667 yang melucuti supremasi maritim Gowa-Tallo. Ada kekhawatiran bahwa Banten, kerajaan maritim dan pusat rempah-rempah Nusantara lainnya, akan bernasib sama. VOC merasa di atas angin setelah membuat Gowa-Tallo tunduk. Benteng Somba Opu jatuh pada 1669, dan Syekh Yusuf tak bisa kembali ke kampung halaman.

Saat Pangeran Haji naik tahta di tahun 1680, sejumlah kebijakan yang terkesan sangat bersahabat dengan Batavia membuat Sultan Ageng tak terima. Banten nan garang di barat Pulau Jawa malah melunak kepada kompeni. Lantaran kecewa, Sultan Ageng mengobar perlawanan bersama rakyat. Syekh Yusuf turut bergabung sebagai pemimpin pasukan.

3. Dua tahun setelah perang meletus, pasukan Sultan Haji dibantu VOC berhasil memukul mundur kubu Sultan Ageng



Pada dua tahun awal perang saudara, kubu Sultan Haji terus terdesak mundur oleh pasukan Sultan Ageng. Upaya mempertahankan loji VOC di Banten ternyata jauh lebih sulit dari yang diduga. Sultan Haji akhirnya meminta bantuan pada kompeni, dan menyanggupi syarat dari Gubernur Jenderal Cornelis Speelman di mana VOC akan diberi monopoli perdagangan secara penuh.

Seketika, jalannya perang berubah total. Bala bantuan dari Batavia perlahan berhasil memukul mundur pasukan kubu Sultan Ageng. Pada 7 April 1682, loji VOC dan istana Banten di Serang berhasil dibebaskan. Zainal Abidin dalam "Capita Selecta Sejarah
Sulawesi Selatan" (SIGn Institute, 2017) menulis bahwa Sultan Ageng terpaksa mundur sejauh 10 kilometer ke Desa Margasana.

Tak lama kemudian, kubu Sultan Ageng harus menyingkir ke arah timur menuju Desa Tirtayasa setelah tak sanggup menghalau serbuan kubu Sultan Haji - VOC. Desember 1682, sejumlah komando pasukan Sultan Ageng menyerahkan diri di saat sang pemimpin perlawanan bertahan di Tirtayasa. Syekh Yusuf, bersama pengikutnya yang mencapai dua ribu orang (terdiri dari orang-orang Makassar, Bugis, Jawa dan Melayu) mundur menuju wilayah Priangan bersama dua putra Sultan Ageng, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul, untuk bergerilya.

4. Syekh Yusuf menyerahkan diri setelah memimpin perang gerilya di pedalaman Jawa Barat


Saat Sultan Ageng menyerahkan diri pada 16 Maret 1683, pasukan Syekh Yusuf mundur 135 kilometer ke selatan, tepatnya di wilayah Cikaniki, Jawa Barat. Medan berat dan hutan lebat membuat mereka aman dari pengejaran VOC. Di Cikaniki inilah Syekh Yusuf kembali menyusun rencana penyerangan dan memulihkan mental bertempur pengikutnya.
Tak disangka, pasukan VOC pimpinan Letnan Maurits van Happel berhasil melacak keberadaan Syekh Yusuf, memaksa sisa-sisa kekuatan Sultan Ageng menyingkir lebih jauh ke arah timur. Puncaknya, kedua pihak terlibat pertempuran hebat di Desa Tunggilis (kini di Kabupaten Ciamis). Jatuh banyak korban jiwa, salah satunya adalah Pangeran Kidul. Syekh Yusuf sempat menyelamatkan diri, meski menderita luka-luka akibat pertempuran brutal.
Jadi buronan VOC, Syekh Yusuf diketahui tinggal di kaki Gunung Cereme, 130 km di utara Tunggulis. Demi memancing keluar dari persembunyian, Batavia menawan istri dan anaknya. Khawatir dengan keselamatan keluarganya, Syekh Yusuf pun menyerahkan diri pada Maret 1683 (Merle Calvin Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Serambi, 2008).
5. Syekh Yusuf wafat di Zandvliet, Afrika Selatan
Saat menjalani masa penahanan di Batavia, VOC rupanya kebingungan dengan nasib Syekh Yusuf. Komandan VOC di Makassar waktu itu, Willem Hartsink, mengusulkan agar ia lebih baik dipulangkan ke kampung halaman dan dijadikan tahanan rumah. Namun usul tersebut ditolak pejabat tinggi di Batavia, Dirk de Haas (setelah mempertimbangkan pandangan Arung Palakka), lantaran takut dengan potensi bangkitnya kembali perlawanan rakyat Gowa-Tallo.
Namun, menahannya terlalu lama juga tak menguntungkan VOC. Kerry Ward dalam buku "Networks of Empire: Forced Migration in the Dutch East India Company" (Cambridge University Press, 2009) menjelaskan bahwa Syekh Yusuf dipandang sebagai Wali dan populer di mata penduduk muslim Batavia. Alhasil, tempat penahanannya sering dikunjungi oleh orang-orang.
Keputusan pun diambil. Syekh Yusuf dibuang ke Kolombo, Sri Lanka, pada 12 September 1684 bersama istri, anak dan sejumlah pengikutnya yang mencapai 49 orang. Ia kembali dipindahkan oleh VOC ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada tanggal 2 April 1694.
Wafat di Zandvliet pada 23 Mei 1699, pemerintah Indonesia memberi gelar 
Pemerintah Indonesia Memberi gelar Syekh YusufPahlawan Nasional 
pada 7 Agustus Tahun 1995

Catatan:

Kamis, 25 Maret 2021

Mengenal lebih Dekat Sutan Syahrir Tokoh Kemerdekaan yang Berasal dari Sumatra Barat

 


Sutan Syahril tokoh pejuang kemerdekaan di samping Sukarno dan Hatta. Mereka bertiga ini tidak bisa dipisahkan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Mereka pernah sama-sama dipenjara, menghadapi saat saat gentingnya agresi Belanda yang berusaha melenyapkan Republik Indonesia. Diantara para pejuang Sutan Syahrir lah satu-satunya tokoh yang pernah bertengkar dengan Sukarno.

Berikut ini beberapa fakta menarik dari sang tokoh yang dikutip lansung dari Idntimes.com

1. Pejuang yang andal bermain sepak bola 


katailmu.com
Selain gemar membaca, Sjahrir kecil juga merupakan penggemar sepak bola. Ia pernah tergabung dalam Club Voetbalvereniging Poengkoer (klub sepak bola di tempat tinggalnya) dan klub sepak bola Luno di sekolahnya.
Menurut Mrazek, Sjahrir adalah penyerang tengah yang andal. Ia sering kali memperoleh uang saku tambahan dari bermain sepak bola. Bahkan, ketika dirinya diasingkan ke Boven Digul oleh pemerintah Kolonia Hindia Belanda pun Sjahrir sering bermain sepak bola dengan para buangan lainnya.
2. Tidak menyelesaikan studinya 


Ketika remaja, Sjahrir terdaftar sebagai pelajar di Leiden School of Indology. Di sini, ia mendalami dunia politik dan menjadi anggota Perhimpunan Indonesia yang dipimpin Hatta. Tetapi, ketika pemerintah kolonial Belanda menangkap Soekarno, ia menghentikan studinya dan pulang ke tanah air pada 1931. Sejak saat itu, ia menggabungkan diri dalam perjuangan dan tidak berniat menyelesaikan pendidikannya.
Ketika ia ditanya soal pendidikannya yang tidak selesai, Ia menjawab bahwa titel itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah bagaimana tiba pada kebenaran yang harmonis dan pribadi sifatnya. Pernyataan ini diungkapkan Sjahrir dalam Indonesische Overpeinzingen.
3. Memiliki anak angkat 


Setelah dibuang ke Boven Digul, pembuangan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira. Di sinilah ia bertemu dengan anak angkatnya: Des Alwi, Lily, Mimi dan Ali. Selain dianggap anak oleh Sjahrir, mereka juga dianggap anak oleh Hatta. Des Alwi dimasukan ke sekolah teknik dan biayai oleh Hatta. Selain itu, Des Alwi juga menjadi ahli radio gelap Sjahrir pada masa pendudukan Jepang

4. Tidak hadir saat proklamasi kemerdekaan


Sjahrir adalah salah satu tokoh yang dikenal mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Bahkan, saking ingin segera merdeka, Sjahrir dikabarkan membuat teks proklamasi versinya sendiri. Menurut Mrazek, naskah proklamasi Sjahrir diketik sepanjang 300 kata.
Akan tetapi, ketika proklamasi berkumandang pada 17 Agustus 1945, Sjahrir tidak hadir di sana. Ia menilai kalau deklarasi itu rekayasa Jepang. Karena itulah, ia memilih menepi dan hanya mengamati.
5. Pernah berseteru dengan Jenderal Soedirman 


Perseteruan antara Sjahrir dan Sang Jenderal dipicu oleh perbedaan pemahaman soal perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Menurutnya, kemerdekaan sesungguhnya harus dicapai secara bertahap, rapi dan elegan, bukan frontal dengan angkat senjata. Maka, ia mempraktikkan politik diplomasi. Selain itu, ia pun mengatakan harus menyingkirkan semua kolaborator bentukan Jepang.
Mendengar itu, Soedirman merasa kesal, karena mau bagaimanapun PETA adalah bentukan Jepang. Kemudian, Soedirman mengkritik diplomasi yang dilakukan Sjahrir dan menggabungkan diri dengan Persatuan Perjuangan bersama Tan Malaka.
Sejak saat itu Soedirman dan Tan Malaka menjadi penentang politik diplomasi Sjahrir. Setelah gerilya yang dilakukan Soedirman selesai, hubungan keduanya membaik. Bahkan mereka saling mengagumi satu sama lain.
6. Menikah di Kairo, Mesir
Setelah kisah cintanya dengan Maria berakhir, Sjahrir sempat menjomblo. Dalam kesendirian itu Ia pernah terpincut oleh kecantikan Gusti Nurul, putri Keraton Mangkunegaran, Solo. Kisah itu tidak berujung manis, sehingga hadirlah nama Poppy sebagai pengganti.
Setelah Poppy menyelesaikan pendidikannya di Inggris, keduanya memutuskan untuk menikah. Ketika itu Poppy berada di London sedangkan Sjahrir di Jakarta. Kemudian mereka memilih menikah di Kairo, Mesir pada 1951. Penghulunya adalah rektor Universitas Al-Azhar, Syekh Abdul Magud Selim.
7. Meninggal di Zurich, Swiss

Keretakan hubungan antara Soekarno-Sjahrir berujung pada penangkapan dan penahanan Sjahrir. Pada waktu itu, kesehatan Sjahrir semakin memburuk. Ia menderita stroke dan komplikasi cukup parah. Kemudian, Soekarno mengizinkan Sjahrir untuk berobat ke luar negeri asal tidak ke Belanda, maka Swiss menjadi pilihan. Dan, pada 21 Juli 1965 Sjahrir dan istrinya terbang ke Swiss.
Pada awal April 1966, kondisi Sjahrir semakin buruk. Lalu, Poppy membawanya ke rumah sakit. Setelah koma tujuh hari, Sjahrir meninggal pada 9 April 1966.  Setelah itu, gelar pahlawan nasional pun disematkan padanya. Penguburannya pun dilakukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan penuh penghormatan.
Nah, tadi itu adalah fakta-fakta tentang Sjahir yang harus kita ketahui, supaya kita lebih kenal dengan pahlawan.
Catatan:

Tulisan dikutip lansung dari https://www.idntimes.com/science/discovery/zain-nurjaman/fakta-sutan-sjahrir-c1c2/7


Mengenal Lebih Dekat Thomas Stamford Raffles Tokoh Penjajah dari Inggris


Kalau kita sejarah Indonesia, Negara yang menjajah Nusantara tidak hanya Belanda. Inggris pernah merebut Indonesia dari Inggris. Penjajahan Inggris ada satu nama yang tidak dapat dititinggalkan, dialah Thomas Stamford Raffles yang nantinya juga dikenal sebagai pendiri Singapura.

Inilah beberapa fakta menarik dari Gubernur Inggris yang berkuasa dari tahun 1811 s/d 1816 di Indonesia itu yang dikutip dari Idntimes.com.

 1. Tidak lahir dari keluarga bangsawan  



Meskipun menyandang gelar Sir, Raffles bukanlah keturunan bangsawan. Gelar itu diperolehnya karena jasa-jasa Raffles untuk negerinya. Ayah Raffles bernama Benjamin Raffles yang berprofesi sebagai kapten kapal dan Ibunya bernama Anne Lyde Linderman.

2. Lahir di atas geladak kapal 



Karena ayahnya berprofesi sebagai kapten kapal, mungkin itulah alasannya mengapa Thomas Raffles lahir di laut  Jamaika, dekat Port Moran, di atas geladak kapal Ann, pada 6 Juli 1781. Selain itu, hal senada tentang kelahiran Raffles pun diungkapkan oleh Boulger dalam buku berjudul The Life of Sir Stamford Raffles.    

3. Stamford bukanlah nama lahirnya 



Ketika lahir, nama yang diberikan oleh orang tuanya adalah Thomas Raffles. Nama Stamford itu dicantumkan oleh dirinya sendiri saat ia tumbuh menjadi pribadi yang dihormati di kawasan Laut Cina Selatan. Setelah itu, barulah dirinya dikenal dengan nama Thomas Stamford Raffles.

4. Pernah menjadi juru tulis 



Krisis ekonomi yang melanda Inggris pada waktu itu membuat keluarga Raffles mengalami kesulitan. Untuk menyokong kehidupan ekonomi keluarga, Raffles harus mencari pekerjaan. Berkat bantuan sahabat ayahnya dan dengan berbekal pendidikan seadanya, beruntung sekali Raffles ditawari menjadi seorang juru tulis di perusahaa Hindia Timur (East India Company).

Dalam  kata pengantar buku History of Java versi bahasa Indonesia dikatakan bahwa Raffles adalah orang yang ulet dan memiliki kemauan keras. Karena sikap itulah Raffles kemudian dipromosikan menjadi Asisten Sekretaris di perusahaan itu namun untuk wilayah kepulauan Melayu.

5. Ditinggal mati oleh istri pertama 



Dalam pengantar buku History of Java versi bahasa Indonesia, dikatakan bahwa sebelum Raffles menikah dengan Shopia Hull, Raffles sudah pernah beristri. Istri pertama Raffles bernama Olivia Mariamne Devenish, meninggal pada 26 November 1814 akibat penyakit malaria.

Untuk mengenang istri yang dicintainya itu, Raffles membuat sebuah monumen. Monumen itu dapat kita temui di kebun Raya Bogor. Setelah itu, pada 1815 Raffles kembali ke London untuk sementara waktu karena kesedihan yang mendalam dan juga mengidap penyakit tropis.

6. Menyukai budaya dan alam Jawa 



Selain menyenangi ilmu alam, Raffles pun menyukai banyak hal tentang Jawa. Ia menaruh perhatian terhadap sastra dan budaya Jawa. Perhatian inilah yang menjadi salah satu faktor lahirnya buku History of Java, buku yang cukup komprehensif membahas Jawa pada masa itu.

Selain itu, buku History of Java hasil karya Raffles itu terbit pertama kali pada tahun 1817 dan menjadi rujukan para penjelajah untuk datang ke Hindia-Belanda (Indonesia). 

7. Meninggal karena sakit stroke 



etelah tugasnya di tanah koloni selesai, pada sekitar tahun 1824 Raffles kembali ke Inggris. Di tanah asalnya inilah Raffles meninggal dunia sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-45 (5 Juli 1826). Salah satu penyebab kematian Raffles adalah sakit Stroke yang dideritanya.  

Nah, itu adalah tujuh fakta seputar Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Semoga tulisan ini menambah wawasan kamu soal sejarah ya!

Catatan:

Tulisan dikutip lansung dari https://www.idntimes.com/science/discovery/zain-nurjaman/kehidupan-stamford-raffles-c1c2/7

Sabtu, 06 Maret 2021

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mohammad Hatta Tokoh Proklamator


 Mohammad Hatta atau lebih popular dengan sebutan Bung Hatta, mungkin tidak ada di Republik Ini yang  belum pernah mendengar namanya. Karena nama Pria kelahiran Bukittinggi Sumatra Barat ini diabadikan dengan nama Jalan utama diberbagai kota dan yang spektakuler adalah nama Bandara di Ibukota Jakarta yang juga menggabungkan namanya dengan Bung Karno


 

Namun secara pribadi mungkin banyak generasi  sekarang yang tidak mengenalnya. Karena itulah  pada artikel kali ini saya kutipkan dari IDN Times tentang data yang berhungan dengan tokoh proklamator ini.

1. Sosok sederhana



Bukan menjadi rahasia bahwa Bung Hatta, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang sederhana. Ia pernah meminta asistennya untuk mengembalikan dana taktis wakil presiden yang sebenarnya merupakan haknya.

Semua tawaran untuk menjabat sebagai komisaris perusahaan nasional dan internasional pernah ditolak Bung Hatta. Bahkan jabatan yang ditawarkan Bank Dunia pun pernah dia tolak.

2. Tak pernah berhasil memiliki sepatu impiannya

Ia pernah sangat berkeinginan membeli sepatu Bally, saking inginnya, ia memotong iklan sepatu Bally dan menyimpannya di dalam dompet sembari berharap suatu hari bisa membeli sepatu tersebut.