Selasa, 27 Januari 2015

SI KOYAN MANUSIA SUPER DARI MERANTI RIAU

Mungkin tidak banyak yang tahu, di Propinsi Riau pernah ada seorang  lelaki  adi daya yang mempunyai tenaga yang maha dasyat mampu mengangangkat benda seberat  2 ton. Siapa  kah dia? Itulah si Koyan
Sejauh ini belum  dapat diperoleh nama asli manusia bertenaga super ini. Orang hanya mengenalnya dengan si Koyan.  Si Koyan berasal dari kata satu Koyan yang dalam hitungan orang-orang melayu KEPULAUAN MERANTI  dimana sang superman  berasal adalah sama beratnya mencapai 2 ton.  Karena sanggup mengangkat benda seberat 2 ton itulah maka orang sekitarnya menamainya dengan SI KOYAN. Selain punya kekuatan yang dahsyat, lelaki suku Akit ini (salah satu suku di kepulauan Meranti Riau) juga diyakini kebal senjata. Sepak terjang Si Koyan yang paling mengejutkan adalah tentang pembantaian yang dilakukannya terhadap 32 orang tentara Belanda di daerah kampung tua bernama Pereban di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Si Koyan dipercayai berasal dari Suku Akit. Beliau hidup pada zaman perang kemerdekaan. Sempat berjuang membantu Sultan dalam mengusir penjajahan. Selain itu, kisah yang paling mengesankan tentulah tentang cerita yang beredar bahwa Si Koyan juga  pernah membantu Presiden Republik Indonesia Pertama; Ir. Soekarno saat bersama sama di dalam pengasingan Belanda di Digul. Namun tidak ada pula penjelasan kenapa ia sampai ke Digul di Irian Jaya sana.
Kisah heroik lainnya yang  mengesankan  dari Si Koyan ini adalah keberhasilannya menghentikan gerakan antek Belanda  yang hampir menguasai meranti. Ia dan beberapa orang temannya berhasil memukul mundur gerakan Belanda  di desa Pareban dan menghalaunya menjauh dari kepulauan Meranti. Disinilah menurut kabar dia membantai 32 orang tentara Belanda.
Berdasarkan  ceritera  kepahlawanan  ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti bermaksud mengusulkan lelaki adi daya ini sebagai Pahlawan Nasional yang berasal dari wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Ini tentu saja agar supaya kisah lelaki yang melegenda ini tidak hilang begitu saja dan dilupakan oleh generasi berikutnya. Untuk keperluan itu, Dinas Kebudayaan  Pariwisata Pemuda dan olah raga Kabupaten Kepulauan Meranti  sedang melalukan pengumpulan data, riset, dan pengkajian tentang sejarah panjang Si Koyan.  Suatu langkah  untuk melestarikan  budaya daerah dan menghargai jasa para pahlawan. Semoga berhasil ( Sumber “RIAU DAILY PHOTO”)



REFERENDUM UNTUK IRIAN?


Beberapa minggu terakhir ini muncul isu-isu  tentang referendum untuk Irian Jaya yang sekarang ini lebih sering disebut dengan papua. Referendum untuk  menentukan apakah Irian  masih tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau memisahkan diri. Saya kurang tahu pasti dari mana pula ide ini muncul. Memang selama ini ada segelintir penduduk yang tidak senang Irian bergabung dengan Indonesia. Dan ini wajar saja, di riau yang sudah mapan saja masih terdengar ada yang menyuarakan Riau Merdeka. Namun dalam catatan singkat ini saya ingin menekankan siapa saja yang berpikir untuk referendum di Irian adalah mereka yang tidak mengerti dan tidak mengetahui sejarah. Irian resmi masuk ke NKRI sudah  melalui referendum yang difasilitasi PBB, dan seratus persen yang memberikan suara pada referendum(Dulu istilahnya Pepera, singkatan dari penentuan pendapat rakyat) menyatakan bergabung dengan NKRI.
Ketika pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda  27 Desember 1949, Belanda tidak mau menyerahkan Papua ke Indonesia. Dua tahun setelah itu Belanda masih tetap mengangkangi Papua dan ini menyebabkan President Sukarno meradang dan ingin merebutnya melalui pertempuran. Maka pada tanggal 11 desember 1961 presiden pertama RI itu membentuk Trikora tiga komnado rakyat. Maka mulailah perang merebut Irian barat.
Disamping berperang, diplomat Indonesia berhasil menggalang kekuatan negara asia di PBB. Ketika itu sekjen PBB berasal dari Burma, (Myanmar) U Thant. Disebabkan oleh kepiawaian diplomat kita ketika itu Amerika Serikat bersedia menjadi mediator perundingan antara Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 9162 di New York. Indonesia diwakili oleh Adam Malik dan Belanda oleh Jan Herman Van Royen dan C.W.A. Schurmann.

Perundingan ini menghasilkan kesepakatan New York agreement 1962. Dalam kesepakatan ini Belanda bersedia menyerahkan Papua ke Indonesia. Namun agar supaya belanda tidak kehilangan muka maka salah satu syaratnya adalah melalui referendum. Karena kondisi geografis Papua penetuan Pepera dilaksanakan selama 3 tahap yang dimulai 24 Maret 1969. Pilihan dalam Pepera itu hanya 2 yaitu bergabung dengan Indonesia atau berdiri sendiri. Pepera diikuti oleh 1.026 orang yang mewakili 800.000 rakyat Papua. Hasilnya seratus persen memilih bergabung dengan Indonesia. Maka keluarlah resolusi PBB N0. 2504, 19 Oktober 1969 yang mengakui hasil Pepera itu.

Dari awal dimulai merebut Papua pertempuran dan bidang diplomatik, Presiden Sukarno mengganti sebuatan Papua dengan Irian kependekan dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.
Dan sekarang mereka yang ingin diadakan referendum kembali, berarti tidak mengakui resolusi PBB No. 2504, 1969.dan mengabaikan kepiawaian diplomat kita di PBB serta prajurit kita yang menyabung nyawa untuk menjadikan Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke. Demikian juga mereka yang sekarang kembali menyebut Irian dengan Papua adalah orang yang tidak menghargai jerih payah presiden pertama RI Sukarno dan prajurit TNI yang gugur dalam pertempuran merebut Irian. Oleh karena itu mereka yang mengaku berjiwa nasionalis menyadarkan mereka-mereka yang tersesat dengan menghasut rakyat Irian untuk memisahkan diri dari NKRI