Jumat, 11 Oktober 2019

Amir Syarifudin, dari Seorang Pejuang, Perdana Mentri dan Berakhir Sebagai Seorang Pemberontak (Bagian Ke-dua)

 

Kekecewaan Amir Syarifudin berlanjut. Mundur sebagai perdana mentri dengan kecaman yang bertubi-tubi dari lawan politiknya dia menemukan golongan kiri yang seharus memihak dan membelanya juga mengecamnya. Kelompok kiri yang sehaluan dengannya menyalahkannya karena dianggap lemah dan mau begitu saja menyerahkan tampuk kekusasaan sebagai Perdana mentri. Sebuah rapat sengaja diadakan oleh golongan kiri untuk mengadilinya.

 

Semua yang hadir dalam rapat itu menyalahkan Amir Syarifudin karena mundur begitu saja sebagai Perdana Mentri.  Pemimpin Partai Komunis Indonesia ketika itu, Muso menyerang ketidak  berdayaan Amir. Menurut dia, kaum  komunis saat itu melupakan ajaran Lenin yang menyatakan tujuan utama  dari revolusi adalah kekuasaan Negara. “Mundurnya Amir memberi jalan elemen borjuis memegang kendali pemerintah”


Semua berlansung cepat: Amir Syarifudin mendapati dirinya sekonyong-konyong menjadi musuh bersama. Tak mengherankan malam itu  di belakang rumah Sukarno dihabiskan sampai larut malam dengan minum wiski dan bernyanyi. Hari berikutnya dia berangkat ke Solo membentuk Front Demokrasi Rakyat. Tak berapa lama kemudian ia terlibat secara aktif bersama Muso dalam pemberontakan Madiun.


Pemberontakan gagal. Hanya dalam hitungan minggu Madiun berhasil direbut kembali oleh TNI atau tepatnya pasukan Siliwangi. Muso, Amir dan pucuk pimpinan lain dari Partai Komunis Indonesia buru-buru mengundurkan diri ke Dungus dan Ngebel Ponorogo. Mereka dikawal pasukan tentara merah dan ribuan Pemuda Sosialis Indonesia bersenjata lengkap berikut kaum ibu dan anak-anak.


Sampai di Balong Ponorogo, Muso berselisih dengan Amir Syarifudin.  Mereka berbeda pendapat tentang basis penyerangan baru setelah madiun jatuh. Muso menghendaki ke selatan sedangkan Amir ingin ke utara. Di sini mereka berpisah. Muso dikawal beberapa orang bertualang ke selatan  dan terdampar di sekitar pergunungan Ponorogo. Dia tewas dalam penyergapan pada 31 Oktober 1948.


Sedangkan induk pasukan Amir Syarifudin meneruskan perjalanan. Mereka menyusuri jalan menuju Tegalombo ke Pacitan. Kelompok Amir ini dapat bertahan dari kejaran pasukan TNI sampai akhir bulan November. Meski melalui medan yang sulit, Amir berusaha untuk memelihara semangat pasukannya dengan meyakinkan kemenangan di pihak mereka. Pengembaraan Amir mengitari Gunung Wilis dan Gunung Lawu tiba di daerah Pati dan Purwodadi.


Pada 28 Novembe 1948, Kolonel Djokosoedjono, Maruto Darusman, Sajogo, dan kawan-kawannya ditangkap oleh satu seksi TNI yang patroli di Desa Peringan, dekat Purwodadi. Dalam pengakuannya, Djoko Soedjono menyatakan bahwa ia terpisah hanya 200 meter dari Amir Sjarifuddin. Berdasarkan keterangan ini, pihak TNI menyimpulkan rombongan Amir pasti berada di sekitar Purwodadi. Pengejaran dan patroli kian digencarkan.


Keesokan harinya, TNI dapat melacak lokasi persembunyian Amir di Desa Klambu. Pengepungan dilakukan oleh pasukan Komando Pertempuran Panembahan Senopati. Amir mencoba meloloskan diri melewati rawa-rawa dan hutan-hutan namun tertangkap juga. Pasukan yang meringkus Amir adalah Batalyon Kala Hitam pimpinan Mayor Kemal Idris dari Divisi Siliwangi.


Saat tertangkap, keadaan Amir sudah payah, kurus, dan agak pincang. Dia menderita penyakit disentri. Dalam catatan sejarawan Belanda Harry Poeze, mantan menteri dan perdana menteri itu hanya memakai piyama, sarung, dan tidak lagi bersepatu. Kacamatanya masih bagus; pipa cangklongnya yang tak terpisahkan sudah hilang seperti halnya anjing gembala Jerman-nya yang bernama Zero (ternyata Zero sudah terlebih dahulu ditangkap dan lantas menjadi peliharaan seorang perwira Divisi Siliwangi). Sedangkan senjata yang ada padanya hanya sepucuk pistol.
Menurut keterangan tentara yang menangkap Amir, “Ia (Amir) menderita penyakit itu (disentri), ialah karena takutnya, hingga ia dalam menahan ketakutan melarikan diri sampai ‘buang-buang air,” dikutip koresponden khusus Sin Po, 5 Februari 1949.


Amir bersama pimpinan PKI kelas kakap lainnya dibawa ke Kudus kemudian Yogyakarta. Mereka harus menghadapi penghinaan di muka umum. Ketika digiring di antara kerumunan massa, rakyat di sepanjang jalan mencacimaki bahkan hampir jadi korban main hakim sendiri.
Saat sampai di stasiun Yogyakarta, rakyat berjejal-jejal untuk melihat wajah Amir. Ia terlihat tenang dan di kereta api masih sempat menekuni novel romantik karya William Shakespeare, Romeo and Juliet milik Kapten Soeharto, perwira TNI yang mengawalnya. Sedangkan Soeripno, Amir, dan Hardjono ditahan di penjara Benteng Yogyakarta. Mereka ada dalam kondisi memprihatinkan: hanya memakai kolor dan berbaju lusuh, serta duduk melantai namun masih terlihat santai.

 

19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di kompleks makam desa Ngalihan, kepala Amir Sjarifuddin ditembak dengan pistol oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus dalam Angkatan Bersenjata Indonesia. Sebelum ditembak Amir Syarifudin yang malang bersama beberapa orang temannya yang akan ditembak mati menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internasionale. Pada detik-detik terakhir sebelum peluru menembus tubuhnya Amir berteriak “ Bersatulah kaum buruh seluruh dunia! Aku mati untuk mu “

 

Begitulah akhir kisah hidup seorang yang sebenarnya hidup mewah di zaman penjajahan Belanda namun tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, berjuang dibawah tanah pada masa peemrintahan Jepang, tertangkap; disiksa secara sadis. Priode revolusi kemerdekaan mejadi tokoh penting, sempat memegang tumpuk tertinggi pemerintahan sebagai perdana mentri kemudian ikut memberontak dan dihukum mati oleh bangsanya sendiiri yang ia turut memperjuangkan kemerdekaannya
Catatan
-    Sumber tulisan:
1.    https://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Sjarifoeddin
2.    Seri buku Tempo, MUSO, Si Merah di Simpang Jalan, PT. Gramedia Jakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar