Sabtu, 06 Mei 2017

MENGENAL HITOSHI IMAMURA PANGLIMA PERANG JEPANG YANG MENGUSIR BELANDA DARI BUMI NUSANTARA


Ratusan tahun Belanda menjajah dan menguras sumber daya alam  serta mengisap sumber daya manusia Bangsa Indonesia dengan rakusnya.  Berbagai pemberontakan sudah pernah dilakukan untuk mengusir bangsa barat yang tamak itu, namun selalu gagal. Baru tahun 1942 Belanda berhasil di usir dari bumi nusantara ini oleh bangsa Jepang. BangsaAsia yang gagah perkasa.



Berbicara tentang terusirnya Belanda oleh bangsa Jepang ada satu nama yang tidak  mungkin hilang dalam sejarah yaitu HITOSHI IMAMURA. seorang jenderal Jepang pada masa Perang Dunia II yang pernah menjadi Panglima Tentara ke-16 di Jawa periode Maret - November 1942.Seorang Jenderal yang baik hati, samurai sejati yang etika hidupnya tercakup dalam kepatuahan kalimat bersayap \jepang yang paling terkenal, “ Yang kuat tidak boleh memperlihatkan kesombongan”.

Jenderal yang sederhana.   Setelah menjadi asisten Atase militer Jepang  di London Inggris,ia ditugasi  memimpin kesatuan tempur sewaktu Jepang menyerbu semenanjung Korea dan Manchuria. Imamura memimpin pertempuran yang berlansung dengan kejam melawan pasukan Koumintang di daratan China sebelum Perang Asia Timur Raya meletus.
Salah satu kata mutiara yang paling digemari oleh Jenderal yang gemilang ini adalah ”Seorang samurai harus hidup sederhana ditengah tawaran kemewahan.” Oleh karena itu, selama bertugas di Jakarta, Imamura menolak tinggal di istana Gambir, bekas kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Penguasa Jepang tertinggi di Jawa tersebut dengan sengaja memilih rumah yang lebih sederhana.

Dalam autobiografinya,  yang ditulisnya ketika dalam tahanan sekutu, “ A tapir in Prison,” Imamura sangat terkejut dan terkesan menerima sambutan yang bersahabat dari masyarakat setempat sewaktu dia dan pasukannya mendarat di Jawa.
Selama jadi penguasa tinggi di Indonesia,  samurai sejati ini  sengaja menerapkan kebijakan garis lunak kepada rakyat Indonesia. Jenderal ini menegaskan, “ Tentara XVI tidak dapat mengkhianati niat baik rakyat Indonesia karena kerja sama dan dukungan mereka adalah separuh kekuatan kami dalam memenangkan perang  mengusir Belanda dari jawa.

Namun kebijakan garis lunak ini tidak lama dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia. Karena  Jenderal yang baik hati ini meninggalkan Indonesia  pada bulan November 1942, untuk  menjadi Panglima tentara ke-8 di Kepulauan Solomon dan New Guinea. Dan mulailah perlakuan semena-mena yang diterapkan oleh pasukan pendudukan Jepang yang terkenal bengis dan sewenang-wenang.

Di tempat tugasnya setelah meninggalkan Indonesia, keberuntungan  tidak lagi menyertainya dalam rangkaian pertempuran hebat dari September hingga November 1942, ia gagal mengusir pasukan Amerika..Bahkan pada Februari 1943 ia terpaksa memerintahkan pasukannya mundur.Seusai perang, Jenderal yang baik hati ini  termasuk yang diadili sebagai penjahat perang dan dihukum di penjara Sugamo. Tahun 1954, ia dibebaskan dan meninggal dunia tahun 1968.

Sumber : Catatan Julius Pour, JAKARTA 1945, Awal Revolusi Kemerdekaan, Pt. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.
Gambar : 1.


                2, google gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar