Jumat, 09 Agustus 2019

Benteng Bukit Tajadi, Saksi Bisu Kisah Heroik Anak Bangsa Mempertahankan Tanah airnya


Benteng Bukit Tajadi atau kadang salah dieja Bukit Tak Jadi namun penduduk lebih senang menyebutnya gunung tak jadi  adalah bekas benteng pertahanan Kaum Padri yang terletak di Kampung Chaniago, Nagari Ganggo Hilie, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, Indonesia. Saat meletusnya Perang Padri, benteng ini menjadi pusat komando pasukan Padri. Area benteng meliputi bukit berbentuk persegi panjang yang memiliki kemeringan hampir tegak lurus ke atas. Di atas bukit, pasukan Padri dulunya membangun struktur menyerupai benteng sebagai basis pertahanan Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya dari serangan pasukan Belanda sehingga dalam literatur Belanda area ini disebut sebagai Benteng Bonjol

Dalam catatan harian seorang seorang prajurit Belanda berpangkat Letnan I Boelhouwer, Benteng Bonjol digambarkan memiliki tembok-tembok yang terbuat dari batu-batu besar dengan teknik pembuatan hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa. Sisi bukit dikelilingi oleh parit pertahanan dan rumpun bambu berduri yang sulit ditembus. Sejak 1833, pasukan Belanda berkali-kali melancarkan serangan untuk menaklukan Benteng Bonjol, tetapi menuai kegagalan. Belanda baru dapat menjatuhkan Benteng Bonjol setelah serangkaian serangan bertubi-tubi pada 15 Agustus 1837. 

Pada 2007, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat menetapkan bekas Benteng Bonjol sebagai cagar budaya. Namun, kondisinya saat ini tak terawat. Tidak ditemukan lagi struktur bangunan yang mengindikasikan sebuah bangunan pertahanan. Di puncak bukit, didirikan monumen untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Dari atas bukit, terhampar pemandangan daerah Bonjol dan sekitarnya


Bukit Tajadi memanjang sekitar 1 kilometer. Topografi tanahnya berundak hingga ketinggian 400 sampai 500 meter. Sisi bukit mempunyai sudut kemiringan yang terjal, bahkan hampir tegak lurus. Jejeran rumpun bambu berduri ditanam rapat-rapat mengelilingi sisi bukit yang dulunya berfungsi sebagai sistem pertahanan yang sulit ditembus oleh musuh, sementara Kaum Padri dapat mengamati gerak musuh tanpa terlihat.

Bukit Tajadi berbentuk segi empat panjang yang dipisahkan oleh sebuah sungai dengan aliran yang deras. Dalam buku Kenang-kenangan Sewaktu di Sumatera Barat tahun 1831–1834, seorang prajurit Belanda berpangkat Letnan I Boelhouwer menyebut Benteng Bonjol dibangun dengan teknik pembuatan hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa. Tiga sisi Bonjol dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. Tembok luar terdiri dari batu-batu besar, yang menurut Boelhouwer, merupakan tembok benteng yang kokoh. Di antara kedua tembok benteng, dibuat parit yang dalam dengan lebar 4 meter. Di atas tembok benteng, ditanami bambu berduri "yang sudah hampir berupa hutan duri yang tidak dapat ditembus". Orang-orang Padri, sebut Boelhouwer merujuk pada Kaum Padri, menempatkan pengintai dan penembak jitu dibalik bambu berduri untuk memantau pergerakan pasukan Belanda.

Di beberapa tempat terlihat meriam-merian kaliber 12 pon dengan pedati beroda kayu tanpa jari-jari untuk mengangkutnya. Di dekat meriam tersebut, terdapat batu bulat sebagai pengganti peluru. Boelhouwer menulis, "Sungguh mengherankan bagaimana mereka dapat membawa meriam sebesar itu ke atas bukit, sedangkan kami (maksudnya Belanda) hanya mampu membawa meriam kaliber tiga pon. Itu pun harus dipereteli.

Di luar Bonjol, terdapat masjid berbentuk segi empat yang dibangun tanpa paku dan besi dengan atap terdiri dari lima lapis yang makin lama makin kecil dan tertutup sirap, bahan yang sama dengan yang dipakai untuk atap gereja-gereja di Eropa dan dapat menampung kurang lebih 3.000 orang. "Sebenarnya jika ada kemauan, bangsa Minang ini dapat mencapai kemajuan peradaban setara dengan Eropa," tulis Boelhouwer

Pemerintah kolonial menuai sejumlah kegagalan dalam usahanya untuk menaklukan Benteng Bonjol, pusat komando pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Gagalnya penyerangan ke Bonjol dimuat dalam laporan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda Van den Bosch bertanggal 21 September 1833. Sulitnya menembus Benteng Bonjol adalah salah satu faktor yang memperlambat gerak laju serangan Belanda dalam melumpuhkan Kaum Padri.

Pada 21 April 1835, operasi militer terhadap Bonjol kembali dilancarkan, dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer. Pada tengah malam 16 Juni 1835, pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol "dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah".[9] Berapa kubu pertahanan Kaum Padri yang berada di sekitar Bukit Tajadi direbut pada awal September 1835, tetapi pasukan Belanda belum berhasil menguasai Bukit Tajadi. Pasukan Belanda justru kembali menuai kegagalan setelah Kaum Padri ke luar benteng menyerbu pasukan Belanda dan menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat di sekitar Bukit Tajadi. 

Belanda baru dapat menjebol sebagian Benteng Bonjol pada akhir 1836, tetapi Kaum Padri dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari benteng. Setelah kegagalan penaklukan Bonjol, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang baru Dominique Jacques de Eerens menunjuk Mayor Jenderal Cochius, seorang perwira tinggi Belanda yang memiliki keahlian dalam strategi perang Benteng Stelsel, untuk memimpin serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol yang kesekian kalinya. 

Pada 16 Maret 1837, serangan intensif ke Bonjol oleh pasukan Belanda dimulai. Pada 3 Agustus 1837 dipimpin oleh Letnan Kolonel Michiels, Belanda sedikit demi sedikit menguasai keadaan. Benteng Bonjol jatuh pada 15 Agustus 1837, dan keesokan harinya, Benteng Bonjol dapat ditaklukkan secara keseluruhan. Walaupun demikian, Tuanku Imam Bonjol lolos dari pengepungan dan keluar dari benteng didampingi oleh beberapa pengikutnya. Imam Bonjol mencoba mengadakan konsolidasi terhadap pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, setelah lebih dari tiga tahun bertempur melawan Belanda. Hanya sedikit saja lagi pasukan yang masih siap bertempur. Melihat kenyataan semacam ini, Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya yang telah bercerai-berai agar kembali ke kampung halaman masing-masing.


Kini benteng yang punya kisah heroic anak bangsa dalam mempertahankan tanah airnya itu hanyalah sebuah bukit biasa  yang ditumbuhi semak belukar dan di lereng-lerengnya ditanami kebun kelapa sawit. Tembok-tembok dan parit-parit pertahanan sudah tidak ada. Juga meriam-meriam juga tidak ada  Bukit itu sunyi, hanya  desauan angin yang terdengar lirih. Jalan setapak sampai ke puncak disemenisasi sehingga kenderaan roda dua bisa sampai ke puncak, walaupun dibeberapa bagian tanjakannya sampai 60 derjat. Kadang kala ketika 17 Agustusan anak sekolah mengadakan upacara di sana. Pada puncaknya dibangun monument yang menyerupai manusia yang sedang berdiri. Pada dasar monument tertulis kata-kata yang memilukan “MENGHADAPI  KOLONIAL  BELANDA BUKAN SOALAN BAGIKU  TAPI  MEMPERSATUKAN  BONJOL AKU TERLUKA  KARENANYA”  Tak jauh dari situ pada sebuah tiang bendera merah putih berkibar ditiup angin siang dan malam.
Catatan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar