Sabtu, 07 November 2015

PASUKAN INGGRIS YANG DIGDAYA PEMENANG PERANG DUNIA II KALAH TELAK DALAM PERTEMPURAN SURABAYA

(HARI-HARI MENJELANG 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA)
PART II
Tanpa mengindahkan kenyataan bahwa Indonesia sudah merdeka, tentara sekutu dengan seenaknya bertindak  menurut apa yang mereka mau. Pada  26 Oktober 1945, tentara sekutu merebut penjara Kalisosok dan membebaskan tawanan termasuk seorang Kapten Belanda. Pada hari berikutnya mereka merebut Pangkalan Udara Tanjung Perak.

Pada 27 Oktober 1945, pukul 11.00 siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta  menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran dan menganggap Brigjen  Mallaby tidak menepati perjanjian.
Sebetulnya pada 26 Oktober 1945 sudah tercapai persetujuan antara Gubernur Jawa timur Suryo dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan Milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka.
Sayangnya Brigjen Mallaby memilih untuk mematuhi atasannya di Jakarta untuk melucuti Pasukan Indonesia. Bagi rakyat Surabaya pilihannya adalah menyerahkan senjata dan menrendahkandiri atau melawan. Namun pilihan terakhir yang diambil yaitu melawan.
Pejuang kita sudah memperkirakan, pasukan Inggris hanuya sekitar 5000 an, sedangkan pasukan kita yang bersenjata saja sekitar 30.000 an. Jenis senjata yang dimiliki pejuang Indonesia tergolong cukup, mulai dari senjata ringan, hingga berat, termasuk meriam dan tank peninggalan jepang yang sebagian masih utuh. Dan lagi pula pasukan Inggris yang baru 2 hari mendarat tentu tidak mengenal liku-liku kota Surabaya.

Minggu 28 Oktober 1945, subuh hari pukul 04.30, rakyat Indonesia melancarkan serangan besar-besaran. Tujuannya mengusir tentara Inggris – yang membantu Belanda di Surabaya.
Selain pasukan-pasukan bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000 pemuda dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan bersenjatakan bamboo runcing dan celurit ikut dalam pertempuran. Mereka yang belum bersenjata bertekat untuk merebut senjata dari tangan tentara Inggris.

Selain menyerbu pos-pos pertahanan Inggris di tengah kota, pejuang juga memblokade aliran listrik dan air. Truk-truk yang mengangkut suplai untuk tentara Inggris dicegat. Bantuan pangan yang dijatuhkan dari udara juga jatuh kepada pasukan Indonesia.
Setelah dua hari tidak menerima makanan dan minuman  serta korban yang jatuh di pihak mereka sangat besar, Pasukan pemenang PD II yang terkenal gagah berani ini keok dan mengibarkan bendera putih. Mallaby sadar kalau pertempuran tidak dihentikan pasukan Inggris akan tersapu bersih dari Surabaya.
Pimpinan tentara Inggris menyadari bahwa pertempuran ini tidak akan bisa dihentikan begitu saja melihat   rakyat Indonesia yang begitu bersemangat. Harus ada  ada pemimpin Indonesia yang  berpengaruh memerintahkan baru pertempuran ini berhenti. Dan mereka tahu hanya Sukarno lah pemimpin yang bisa menghentikannya.
Panglima tertinggi tentara sekutu untuk Asia timur Letjen Sir Philip Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai pertempuran di Surabaya. Ia sangat mengkhawatirkan nasib pasukannya yang sudah kalah telak. Dengan terburu-buru dia minta bertemu dengan presiden Sukarno. Saat itu presiden sedang tidur, ia mendesak agar dibangunkan segera. Begitu paniknya sekutu waktu itu.

Atas permintaan sekutu, Presiden Sokarno berangkat ke Surabaya dengan pesawat yang mereka sediakan. Ini menunjukkan bahwa inggris memang sudah tidak berdaya untuk menghentikan pertempuran.
Begitu sampai di Surabaya Presiden Sokarno lansung diajak berunding, Pasukan Indonesia yang sedang berada diatas angin patuh kepada Pemimpin mereka dan pertempuran dihentikan. Sehingga selamatlah sisa-sisa pasukan Inggris dari kepunahan ( bersambung “ Pertempuran Surabaya 10 November 1945)
  Sumber: Agung Pribadi, 2014. Gara-gara Indonesia. Depok: AsmaNadia Publishing House.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar