Sabtu, 07 November 2015

PASUKAN INGGRIS YANG DIGDAYA PEMENANG PERANG DUNIA II KALAH TELAK DALAM PERTEMPURAN SURABAYA

(HARI-HARI MENJELANG 10 NOVEMBER 1945 DI SURABAYA)
PART I

Pasukan Inggris yang gagah perkasa, penuh percaya diri dan pongah mendapat pengalaman pahit kalah telak dan terancam punah dalam pertempuran dengan pasukan dan rakyat Indonesia yang penuh semangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam perang dunia II yang seru dengan lawan yang seimbang tidak satu pun perwira setingkat jenderal yang tewas. Namun di Surabaya dua jenderal  Inggris tewas dengan menggenaskan. Bangsa Indonesia yang cinta damai namun berprilaku nekat bisa saja menghabisi pasukan sekuat apapun.


Belum genap satu bulan bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, tentara Inggris mendarat di Jakarta pada tanggal 15 September 1945. Kedangan pasukan Inggris diterima secara resmi oleh rakyat Indonesia karena misi mereka adalah untuk melucuti tentara jepang,
Kemenangan sekutu pada PD II membuat pimpinan  dan tentaranya terjebak dalam euphoria, merasa kuat dan tidak ada yang berani melawannya. Lucunya Belanda yang tidak punya andil dalam kemenangan PD II, setelah sekutu menang, mereka ingin mendapatkan manfaat yzng sebesar-besarnya untuk kembali menguasai Indonesia, yang dulu secara mudah menyerah  kepada Jepang.
Bangsa belanda yang sebelumnya lari dan bersembunyi di Australia, kembali ke Indonesia seperti pemanang perang  dan mereka merayakan kemenangan seolah-olah mereka yang menang.
Di Surabaya, Belanda mengadakan pesta pada tanggal 19 September 1945 di hotel Yamato. Atau hotel Oranye menurut sebutan Belanda. Mulanya pestanya tidak menjadi masalah, tapi mereka mengibarkan pula bendera mereka merah putih biru. Dan ini berarti tidak mengindahkan kemerdekaan Indonesia.

Keruan saja pemuda Surabaya marah. Awalnya mereka minta bendera itu diturunkan, namun belanda secara arogan menolak bahkan ada yang melepaskan tembakan. Mereka merasa aman karena ada pasukan Inggris yang menjaga. Dari adu mulut akhirnya terjadi baku hantam yang kahirnya melibatkan senjata. Berbekal senjata api dan bamboo runcing pemuda Surabaya menyerang kelompok belanda tersebut dan seorang perwira belanda tewas. Perwira itu adalah Mr. Ploeman yang diduga sebagai walikota Surabaya bentukan Belanda. Melihat kejadian ini orang Belanda yang ada di sana lari pontang panting. Lagu Indonesia raya segera berkumandang dipimpin oleh Bung Tomo.

Tentara sekutu mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tentara Inggris yang datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Pasukan yang datang ini adalah Bigade 49 yang terkenal sebagai Pemberani yang memenangkan pertempuran demi pertempuran di Birma melawan Jepang. Mereka berjumlah sekitar 5000-6000 pasukan. Dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby. ( Bersambung)
Sumber: Agung Pribadi, 2014. Gara-gara Indonesia. Depok: AsmaNadia Publishing House.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar